![]() |
| Sumber Foto |
Sejak kapan dan bagaimana ide-ide kolaborasi seperti ini muncul ?
Munculnya
ya karena keinginan akan suatu Kepuasan. Kalau Zoo atau Senyawa, kan sudah punya konsepnya
sendiri-sendiri. Seperti di Senyawa, aku sudah punya kecenderungan bernyanyi yang
seperti itu. Senyawa juga itu ada karena aku pengen nyoba, kalau aku kolaborasi
dengan Wukir akan seperti apa jadinya. Proyek sampingan lah. Senyawa itu
aku anggap sebagai band ‘metal’ku. Nah, kalau kolaborasiku yang lain, misalnya aku mau bikin proyek folk, aku ajak Soni. Aku mau bikin proyek punk, aku buat Wirok. Ingin bikin musik etnik, aku main dengan
Tony. Jadi, intinya aku ingin bikin bermacam-macam musik, tapi dengan gayaku.
Biar tidak bosan. Kalau aku bosan dengan band utamaku, aku bisa buat sesuatu dengan proyek sampinganku. Ketika aku kembali lagi ke band utamaku, akan jadi terasa lebih segar. Sekalian cari ilmu juga.
Lalu, karena konsep yang berbeda-beda aku jadi merasa segar terus, karena
uneg-uneg ku yang tidak bisa keluar di band utamaku bisa aku keluarkan di
tempat lain, supaya tidak ada tekanan batin. Dan itu tidak akan ada habisnya,
kalau bosan lagi, ya bikin lagi, tidak masalah.
Berarti kan tiap proyek kan mempunyai
kesegarannya sendiri-sendiri mas. Lalu, apa sih kesegaran Seroja sendiri yang
membuat kesegaran milik Seroja itu berbeda dengan kesegaran yang dipunyai oleh proyek
kolaborasi yang lain ?
Seroja
itu segar karena pada awalnya proyek tersebut ditargetkan menjadi band folk, tapi karena aku mengajak Sony, gitaris noise yang ‘seperti itu’, akhirnya malah jadi sesuatu yang segar itu tadi. Karena, tidak menjadi folk yang aku harapkan, malah jadi
sesuatu yang ‘lain’. Nah, itu yang aku
suka, karena tidak tertebak dan tidak sesuai yang aku duga, malah jadi sesuatu
yang baru. Dalam memilih teman kolaborasi kita juga harus pintar-pintar
memilih. Menurutku, kita harus bisa membaca mau berkolaborasi dengan siapa, tidak
bisa sembarangan memilih partner berkolaborasi. Malah jangan skill bermusik
orang tersebut yang kita lihat. Kalau aku, aku pasti membayangkan ketika gaya
vokalku bertemu dengan gaya bermusik orang ini, akan menjadi seperti apa ketika kami berkolaborasi.
Apa anda ini orang yang memang
menyukai bunga-bungaan ? Apa yang bisa anda ceritakan tentang bunga-bungaan
? Lalu, kalau ada, bunga favorit anda apa ?
Aku
sebenarnya bukan pecinta bunga hahaha, pengalamanku dengan bunga itu tidak
banyak. Ibaratnya kalau bumi kiamat, yang pertama akan aku selamatkan itu bukan
bunga hahaha. Aku suka dengan bunga Anggrek, bunga Anggrek itu indah dan langka
menurutku.
Apa anda orang yang relijius dengan
segala konsep yang anda tuangkan di Seroja ?
Pertama
tujuanku memakai dresscode di Seroja,
itu karena aku ingin memberi kesan Melayu
pada Seroja. Kalau masalah relijius atau tidak, aku bukan orang yang relijius. Bisa dibilang aku ini orang yang spiritual. Ketika aku membuat lirik, terlepas
seperti apa bentuk musiknya, lirik-liriknya pasti tentang suatu kearifan. Spiritual itu idak ada kaitan dengan keTuhanan. Kalau
relijius itu kan biasanya bicara tentang Tuhan, kalau spiritual itu kan lebih untuk diri
kita sendiri. Sesuatu yang ada di dalam diri kita sendiri.
Kenapa Soni Irawan, bukan Jimmy Mahardhika
? Apa dia itu sosok yang spiritual dan berbunga-bunga ?
Jimmy
itu orang yang lebih ‘gitaris’ daripada Soni menurutku. Aku tidak mencari gitaris
yang jago buat main di Seroja, tapi aku lebih ingin punya gitaris yang spiritual
hahahaha... Bukan seperti itu juga sih. Aku memang lebih dekat dengan Soni daripada Jimmy. Selain itu, kalau misalnya gitarisku Jimmy, bukan Soni, mungkin musiknya
tidak akan jadi ‘seperti itu’. Jimmy lebih canggih main gitarnya, tapi Soni itu
lebih 'noise'. Menurutku akan lebih
mengejutkan ketika membuat proyek folk, dengan memakai gitaris yang lebih 'noise' daripada gitaris yang canggih permainannya. Pasti akan menjadi sesuatu yang lebih kontras dan tidak tertebak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar