Jumat, 28 November 2014

Liputan Pemutaran Film 'Wariazone' di Festival Film Dokumenter 2011

Sumber gambar : http://bit.ly/1yn11mn
Salah satu liputan yang saya buat ketika webzine milik saya dan teman-teman (yang kini sudah tidak aktif lagi), Alphabeta Journal, menjadi media partner untuk event Festival Film Dokumenter 2011 yang diadakan di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Mengapa saya memilih liputan ini untuk saya unggah ulang ? Karena dari melakukan liputan ini saya mempelajari bagaimana menghargai, dan tidak menjadi orang yang takut dengan sesuatu yang tidak diketahuinya. Jujur saja, waktu itu bisa dibilang saya adalah orang yang amat takut dengan waria atau penyuka sesama sejenis (laki-laki yang suka dengan laki-laki lain secara seksual). Saya datang ke lokasi pemutaran film yang terletak di Amphitheatre TBY sedikit terlambat, dan film sudah mulai diputar. Saya duduk di bangku paling atas karena lokasi sangat gelap, yang membuat saya memutuskan untuk tidak berlama-lama dalam memilih tempat duduk, karena saya juga ingin menonton film tersebut. Hal yang lebih memperngaruhi pandangan saya tentang waria selain dari menonton film tersebut, adalah tanpa saya sadari ternyata sebagian besar dari audiens yang datang malam itu adalah waria. Orang-orang yang duduk di kanan dan kiri saya ternyata semuanya adalah waria, dan saya baru menyadari hal itu setelah sekitar setengah jam setelah saya duduk di tempat itu. Saya merasakan pandangan mata dari orang-orang yang duduk di sekitar saya, menuju ke arah saya, pandangan centil dan penuh akan ketertarikan itu. Saat itu, terus terang saya merinding, dan takut kalau akan digoda. Namun, karena saya harus bisa fokus menonton film tersebut, dan membuat liputan pemutaran yang serius karena akan dicetak dalam bentuk newsletter keesokan harinya, saya berusaha mengusir rasa takut itu.

Lama-kelamaan saya kok jadi merasa bodoh sendiri. Orang-orang di sekitar saya itu memang melepaskan pandangan mata ke arah saya, tetapi saya tidak mengalami gangguan apapun, malahan pandangan mata itu adalah cara manusia menatap manusia lainnya dengan cara yang paling ramah, sejauh ini yang pernah saya rasakan. Buat apa saya takut ? Bodoh sekali. Setelah berhasil menghapus rasa takut itu sama sekali dari saya, saya pun juga berbalik melihat mereka tatapan yang ramah pula. Bukan berarti terus saya ikut mengganti orientasi seksual dan perilaku saya sebagai laki-laki, namun dengan tidak terlalu banyak membuang waktu memikirkan hal tersebut, cukup memikirkan tentang 'hubungan baik' antara manusia saja, rasa takut akan hal yang tidak kita ketahui itu akan hilang. Positive thinking singkatnya. Seusai menonton film dokumenter tersebut, saya malah jadi bersemangat dan penasaran, semangat saya lontarkan dengan melempar senyum ramah pada mereka tanpa rasa canggung atau takut, dan rasa penasaran saya obati dnegan meminta beberapa testimoni dari Mbak Sinta (salah satu tokoh waria di Yogyakarta) untuk liputan saya. Kira-kira begini liputannya :

"Film dokumenter berjudul “Wariazone” oleh Kiwa Noid dan Terje Toomitsu, diputar malam itu (06/11) pada pukul 19.00 di Amphiteater Taman Budaya Yogyakarta. Suasana pemutaran film tersebut tampak ramai, tempat duduk pun terisi penuh oleh penonton dan beberapa waria yang berperan sebagai narasumber dalam film “Wariazone”. Film ini mengungkap sisi lain kehidupan dan kerumitan identitas dari waria, dimana stigma masyarakat yang ada selalu menimbulkan presepsi buruk dan menyudutkan para waria. Film ini terbagi beberapa chapter dalam hal pembahasan tentang waria, mulai dari konflik, ketidaknyamanan sampai masalah kepercayaan yang dianut oleh waria.
           
Waria yang ada didalam film tersebut salah satunya adalah Mbak Sinta, seorang waria yang disebut sebagai waria legendaris dari kota Yogykarta. “Harapan saya masyarakat terutama akademisi dan orang-orang film dapat mengenal sisi waria yang ada di Yogyakarta dan di seluruh Indonesia itu seperti apa, mudah-mudahan dengan adanya film ini bisa mengangkat kita ke sisi yang lebih baik” ujar mbak Sinta mengenai ditayangkanya film “Wariazone” di Festival Film Dokumenter. Mbak Sinta yang malam itu hadir untuk menonton “Wariazone” juga berpesan, film-film seperti ini memang harus ada, juga bukan hanya pada kalangan akademisi tapi juga kalangan pelajar agar mengerti bahwa gender itu tidak hanya male dan female saja. Tidak terasa 58 menit sudah berlalu dan usai sudah pemutaran film “Wariazone”, penonton bertepuk tangan meriah dan puas dengan apa yang ada didalam film tersebut. Acara pemutaran ditutup dengan sesi tanya jawab antar penonton dengan sang pembuat film."

Selasa, 25 November 2014

Catatan Perjalanan Saya di Indonesian Netaudio Festival #2 (Bagian 1)

gambar diambil dari sini
Sebenarnya waktu itu saya nyaris tidak ingin berangkat ke perhelatan Indonesian Netaudio Festival yang ke-2 (INF) di Bandung, 14-16 November lalu. Jujur saya, yang membuat saya malas waktu itu cuma soal ketidaksukaan saya dengan perjalanan lintas darat menggunakan kereta api. Apapun kelasnya. Sangat membosankan, apalagi kalau dapat tempat duduk yang tidak dekat dengan jendela, senderannya jadi kurang nyaman. Tapi flyer-flyer INF # yang terus ditag ke akun instagram saya, membuat saya begitu terundang, membuat hati goyah, dan kemudian membuat saya memutuskan jadi berangkat pada Jumaat malam, tiba di Bandung hari Sabtu sekitar jam empat pagi, lalu kembali lagi ke jogja Minggu paginya, sekitar pukul tujuh. Malam harinya, setelah siangnya saya membeli tiket kereta api di Indomaret, ada panggilan masuk ke handphone saya dari Anitha Silvia (Tinta). Katanya, Rizkan dari StoneAge Records berhalangan hadir karena ada acara keluarga, dan tidak hadirnya Rizkan membuat acara lokakarya yang diadakan pada hari Sabtu (15/11/14) jadi kekurangan satu orang panelis. Mbak tinta (panggilan akrab saya pada beliau) meminta bantuan saya untuk mengisi kekosongan tersebut yaitu dengan menggantikan posisi Rizkan sebagai panelis perwakilan dari netlabel. Ya. Saya punya netlabel, namanya Ear Alert Records, silahkan dicek. Setelah berpikir sebentar, kemudian saya mengiyakan ajakan tersebut, "Yah, nanti dicobalah" begitu kata saya. Hitung-hitung buat coba kemampuan bicara di depan orang. Hitung-hitung membantu teman. Hitung-hitung coba-coba. Dalam hati saya berkata, "Untung jadi berangkat ke Bandung, he he he". He he he.

Singkat cerita, saya sudah duduk di kerta api menuju Bandung. Saya duduk tidak dekat dengan jendela, tidak ada yang lebih buruk dari ini ketika anda berada di atas kereta api. Ibu-ibu yang ada di sebelah kiri saya sudah terlelap, tidur begitu damai, bersandar pada kaca kereta api yang basah luarnya akibat rintikan air hujan. Saya juga sempat terlelap, namun hanya sekejap-sekejap, setiap saya terlelap ada saja orang lewat sebelah kanan saya, menyenggol, dan membuat saya terbangun lagi. Alhasil saya tidak banyak tidur di kereta, cuma sekejap-sekejap. Sekitar pukul tiga pagi, saya mengirim pesan via whatsapp kepada mbak Tinta, menanyakan apakah jadi ada yang mau menjemput saya nanti di Stasiun Bandung. Ternyata ada yang mau berbaik hati dan direpotkan, ketua panitia dari INF sendiri yaitu mas Eky Alkautsar, sungguh baik betul, menurut saya menjemput seseorang yang baru dikenal pada waktu dini hari seperti itu adalah pekerjaan yang berat bung. Terima kasih banyak mas Eky. Sesampainya di stasiun Bandung, saya langsung memberi kabar pada mas Eky kalau saya sudah sampai, setelah bertemu dan berkenalan sejenak, kami langsung naik motor menuju Institut Francais Indonesia (IFI) Bandung, tempat dimana INF yang ke-2 diadakan. Setibanya di IFI, saya melihat wajah-wajah baru juga wajah-wajah familiar yang sudah lama tak jumpa. Tampak sedang duduk-duduk di lantai, ada Gilang Nugraha (Hujan Rekords) dan kawan-kawannya dari Bogor, juga tampak mbak Tinta juga ikut duduk-duduk disitu dengan wajah yang kelelahan karena mungkin seharian belum tidur karena sibuk mengurusi acara tersebut. Senang sekali bisa melihat wajah-wajah yang familiar. Rasanya aman teman-teman. Sungguh aman. Kami berbincang-bincang, dimulai dari basa-basi, lalu mulai bercanda, dan hangat kembali. Menghangatkan dinginnya kota Bandung pagi itu. Tak lama kemudian nampak gerombolan lelaki-lelaki gagah perkasa dari Zoo, ada Rully, Dimex, Obet, Bhakti, dan Panca. Sekali lagi, rasanya sungguh aman melihat wajah-wajah yang familiar. Saya merasa semakin aman. Enak.

Acara dimana saya akan menjadi panelis pengganti yaitu Lokakarya Creative Commons Music diadakan jam 10 pagi nanti.Masih ada sekitar 5 jam sebelum lokakarya tersebut dihelat, salah seorang kawan baru dari Sorge Magz, Kania, menawarkan kepada saya dan kawan-kawan Bogor untuk diantar menuju rumah inap buat tamu luar kota yang datang ke Bandung untuk menghadiri acara tersebut. Kami pun setuju dan langsung jalan menuju perumahan Dago Asri. Saya naik motor dengan Kania, kawan-kawan Bogor naik mobil yang mereka bawa. Sesampainya disana, tampak kokoh bangunan besar dengan arsitektur menawan, ternyata ini rumah inapnya, indah sekali. Setelah terkagum sejenak, ada seseorang membukakan pintu garasi rumah tersebut dari dalam, ternyata teman baru lagi dari perkumpulan panitia baik hati, Blandina Lintang. Setelah berkenalan sejenak, kemudian kami bersama-sama masuk menuju areal dalam rumah inap tersebut, dan wow, lapang betul rumah itu dalamnya, tampak beberapa teman-teman yang sudah datang duluan masih tertidur lelap. Ada yang di lantai, di atas karpet, di atas kasur yang diletakan di atas lantai, di sofa, dan tempat lainnya yang bisa "ditiduri". Sebagian dari kami ada yang langsung mengambil sleeping bag dari satu karung besar yang isinya sleeping bag semua, ada yang langsung enak mapan di atas karpet yang masih lapang, dan ada juga yang memilih untuk duduk-duduk di halamana belakang sambil minum kopidan mendekatkan diri dengan kawan baru, termasuk saya. Tak lama kemudian saya menumpang mandi di rumah tersebut karena waktu sudah menunjukan pukul sembilan pagi, dan sebentar lagi mbak Tinta akan tiba di rumah menjemput saya, untuk kemudian berangkat bersama ke IFI. Kami sudah mandi, kami wangi. Mbak Tinta juga sudah mandi, mbak Tinta wangi. Kami berangkat ke IFI naik mobil A-Pi-Vi yang disewa oleh perkumpulan panitia baik hati guna keperluan acara ini. Setelah melalui rintangan bernama kemacetan kota Bandung di siang hari, dengan agak terlambat kami akhirnya sampai di IFI, dan siap untuk memulai lokakarya.

Disitu saya berkenalan dengan mas Ivan Lanin dari Creative Commons Indonesia (CCID), yang juga akan menjadi panelis pada lokakarya pagi itu. Juga nampak disitu ada Eky, mbak Nuraini Juliastuti (mbak Nuning), lagi-lagi wajah familiar yang membuat saya merasa aman, dan juga ada para peserta lokakarya yang tetap setia menunggu lokakarya tersebut meskipun tidak sesuai jadwal. Maafkan keterlambatan saya, saya yang tidak berguna ini, kawan-kawan. Kami langsung bergegas menuju ruang tempat lokakarya diadakan. Terlihat rak-rak besar dan deretan buku-buku berbahasa Prancis yang tertara rapi pada selongsong rak-rak besar tersebut. Ruangannya tidak terlalu besar, sesuai juga dengan jumlah peserta yang tidak terlalu banyak, sesuai. Saya dan mas Ivan Lanin langsung membagi tugas, disini saya akan berbicara mengenai aktifitas saya di netlabel dan bagaimana saya memfungsikan Creative Commons pada aktifitas tersebut, dan mas Ivan Lanin akan menjelaskan mengenai Hukum Hak Cipta secara normatif kepada para peserta. Mas Ivan tampak membawa bahan-bahan yang tertata rapi, dan enak disimak. Berani betul ya saya yang cuma panelis pengganti, hanya membawa modal wajah kurang tidur, sedikit catatan di kertas HVS A4 yang saya lipat, dan flyer lama CCID yang saya dapatkan waktu INF pertama di Yogyakarta. Sungguh kontras, namun tetap akrab. Mas Ivan Lanin menjelaskan dengan runtut apa itu Hak Cipta sesuai dengan Undang-Undang nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta, meskipun menurut informasi peserta yang menyela ketika materi mas Ivan baru dimulai, Undang-Undang Hak Cipta (UUHC) yang baru sudah disahkan. Mohon maaf, jeda sejenak, setibanya di rumah saya lalu membaca dan memeriksa isi UU tersebut, dan ternyata tidak ada perubahan yang begitu berarti dan mempengaruhi isi materi yang akan disampaikan mas Ivan. Alhamdulilah, berarti bukan kesalahan. Kembali lagi ke lokakarya, setelah ada selaan sejenak, mas Ivan melanjutkan kembali penjelasan dari materi yang telah disiapkannya. Beliau dengan semangat menjelaskan bahwa salah satu tujuan CCID adalah untuk mengajak masyarakat untuk melek terhadap Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Peserta tampak mengangguk dengan semangat, ada yang biasa saja (mungkin karena sudah tahu, atau sudah menguasai), ada yang mencatat-catat, dan lain-lain. 

Kemudian sesi saya dimulai, saya menjelaskan awal mulai proses berbagi musik saya dalam format digital yang dimulai dari blog pertama saya yaitu Empetrinanindonesa, yang kemudian situs tempat saya mengunggah file-file musik dalam negeri tersebut (megaupload.com) terkena upaya take down oleh aparat penegak hukum yaitu FBI. Kemudian saya menceritakan perkenalan awal saya dengan netlabel adalah dengan mengunduh secara legal karya-karya musik melalui Yes NoWave Netlabel dan kemudian mengenalnya lebih dalam lagi melalui Pati Rasa Records (RIP) dan INF pertama yang diadakan di Yogyakarta. Dengan bentuk netlabel saya tetap bisa berbagi musik dalam format digital, gratis unduh, legal karena ada perjanjian lisensi, rapi karena adanya kurasi, tanpa ada ekspektasi komersil sesuai dengan jalan yang saya tempuh sebelum saya membuat netlabel. Saya lebih mengedepankan romantisme yang lahir dari pertemuan antara bunyi dan telinga pendengar dalam suatu dimensi yang bersih dan suci, dan tentu saja persebaran pengetahuan melalui konten karya maupun sekedar pengetahuan tentang keberadaan pembuat bunyi dan bunyi buatannya tersebut bagi siapa saja yang berminat. Dalam lokakarya itupun saya mencoba memberi tahu cara mengasosiasikan penggunaan situs archive.org, dengan lisensi CC. Selesai saya mengutarakan curahan hati saya, lalu sesi tanya jawab dibuka. Penanya pertama adalah Robin Malau mantan gitaris dari band Puppen yang akan menjadi panelis pada diskusi selanjutnya pada hari yang sama, siang harinya. Ada dua penanya lain setelah Robin mengajukan pertanyaan, ada yang bertanya apakah lisensi CC dapat menjadi payung hukum jika terjadi pelanggaran atas hak cipta suatu karya, yang satu lagi saya lupa bertanya apa. Kemudian Robin kembali mengajukan pertanyaan, kira-kira sesuai lah dengan apa yang beliau utarakan pada laman situs resminya ini. Dari dimulainya pertanyaan tersebut berlalulah lokakarya dengan obrolan antar amas Ivan Lanin dan mas Robin. Saya terdiam. Atmosfirnya hampir sama dengan menonton Indonesian Lawyer's Club (ILC). Saya tidak suka ILC. 

Saya menyesal tidak menyiapkan bahan apa-apa sebagai panelis pengganti, karena saya pernah mencoba memakalahkan pemblokiran yang dilakukan oleh FBI terhadap megaupload.com yang mengakibatkan terhentinya aktifitas saya di Empetrinanindonesa. Karena menurut saya, meskipun upaya mengunggah beberapa karya yang saya unggah di blog tersebut  merupakan bentuk pelanggaran hak cipta, beberapa karya lain yang saya unggah di blog tersebut dengan menitipkan file-nya kepada megaupload.com bukan merupakan pelanggaran hak cipta karena saya sudah mematuhi bunyi Pasal 43 huruf d UU No. 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta  berbunyi "Pembuatan dan penyebarluasan konten Hak Cipta melalui media teknologi informasi dan komunikasi yang bersifat tidak komersial dan/atau menguntungkan Pencipta atau pihak terkait, atau Pencipta tersebut menyatakan tidak keberatan atas pembuatan dan penyebarluasan tersebut", yang mana teori ini saya ketahui setelah mempelajari salah satu essay dari Ari Juliano. Tidak semua karya yang saya unggah itu saya langgar hak ciptanya, karena beberapa dari pencipta karya yang saya unggah menyetujui untuk diunggah karyanya dan saya sebarluaskan melalui blog tersebut, dan saya tidak mendapat untung sepersenpun dari aktifitas saya tersebut. Namun FBI, menurut saya, dengan lancang melakukan pemblokiran situs tersebut tanpa memperdulikan konten-konten apa saja yang diunggah di situs tersebut. Namun tindakan FBI tidak bisa sepenuhnya disalahkan, karena memang yang dilakukan oleh Kimdotcom adalah pelanggaran hak cipta, dan Selandia Baru, jua Indonesia, adalah termasuk dari beberapa negara yang meratifikasi World Intellectual Property OrganizationCopyrights Treaty (WIPO), dimana negara yang meratifikasi perjanjian tersebut harus menaati dan melaksankan segala ketentuan yang terdapat di perjanjian tersebut. Namun kalau memang betul UUHC yang sebelumnya, yaitu UU Nomor 19 Tahun 2002 merupakan hasil ratifikasi dari WIPO pada tahun 1997, seharusnya FBI yang menjadi perpanjangan tangan dari SOPA & PIPA yang berasal dari Amerika, negara yang juga menjadi anggota dari WIPO, seharusnya mengindahkan keberadaan pasal 43 huruf d tadi, dengan memperhatikan tiap konten yang diunggah di megaupload.com. Belum tentu benar juga sih analisis saya ini, saya juga belum mengklarifikasikannya pada yang lebih ahli, saya tidak ahli-ahli amat juga sebagai mahasiswa fakultas hukum, mohon maaf. Tapi menurut saya itulah guna keberadaan dari Creative Commons yang selalu saya ingat semenjak INF pertama yang lupa saya sampaikan karena kurang persiapan. CC ada untuk memperjelas, dan menyederhanakan ketentuan tentang hak cipta melalui lisensinya, sekaligus mengurangi eksklusifitas dari hak cipta yang lahir dari suatu karya yang diciptakan oleh pencipta, agar potensi dari karya tersebut dapat dimanfaatkan seluas-luasnya bagi orang-orang yang ingin mendapat manfaat dari karya tersebut. Ekslusifitas yang dimaksud adalah biaya dan prosedur legal yang harus dilalui pengguna karya ketika ingin mengkonsumsi karya tersebut. Dalam konteks karya, yang saya maksud disini adalah musik, dalam format mp3, FLAC, wav, dan format lainnya, menurut pandangan saya, ketika kita berbicara dalam praktek bermusik di netlabel yang berasosiasi dengan lisensi creative commons, rata-rata, musik yang disebarkan oleh netlabel tertentu adalah musik yang menurut saya, musik yang amat serius, meskipun bukan musik arus utama. Dimana saya sendiri menemukan manfaat dari tiap rilisan yang saya unduh dari netlabel, mungkin untuk contoh seperti Senyawa, atau PribumiFrau atau Rabu, dan masih banyak contoh lainnya lagi, dimana dari musik-musik yang saya unduh tersebut, saya tidak hanya mendengarkan musik mereka lalu bilang, oh lagu yang ini bagus, lagu yang ini jelek, atau oh lagu lamanya bagus, lagu barunya jelek. Dari musik, karya, kata (lirik), pemilihan konsep, urutan lagu, dan unsur-unsur kreatif lainnya, karya tersebut tidak hanya menghibur saya dari segi musikalitasnya, namun juga memberi wawasan saya dari segi intelektualitasnya. Terdapat "hal-hal lain" yang dapat diterima dan dibahas selain melulu hanya membahas bagaimana orang memutuskan untuk mengunduh suatu karya karena kualitas musikalitas semata. Bagi orang yang amat anarkis dalam menggunakan internet seperti saya (saya rasa sih seperti itu ya he he he), hal-hal ini seperti harta karun buat saya, sesuatu yang amat berharga. Buat saya, Ear Alert Records itu seperti kebun super luas milik Penny Rimbaud, di kebun itu saya menanam mulai dari Jagung, sampai Pare pun ada, di kebun itu siapapun dibolehkan untuk makan bersama, belajar bersama, dan berpesta bersama, tanpa harus mengeluarkan biaya. Saya sungguh menyesal bisa melupakan bagian terpenting ini, mungkin mas Ivan Lanin juga lupa, atau malah lain pendapat dengan saya, tidak sekedar mengenai persebaran lagu netlabel dan CC berasosiasi, tapi persebaran pengetahuan, menurut saya. Dan saya senang, tercatat pada hari Selasa 25 November, ada orang yang berpandangan mirip (atau sama ?) dengan saya tentang hal ini. Saya tidak bermaksud mengharuskan tiap pihak memiliki pandangan sama dengan saya, tapi apabila tiap pihak memiliki pilihan-pilihannya dalam upaya membagikan "sesuatu", boleh bukan ? Kalau saya ditanya tentang menghasilkan keuntungan berupa uang dalam penggunaan lisensi CC, mohon maaf saya tidak tahu, karena bukan itu tujuan saya membangun netlabel, juga bukan untuk bisa menjadi panelis saya membuat netlabel. Karena saya menyesal tidak dapat mengutarakan hal-hal ini di ruangan tersebut, maka saya utarakan penyesalan saya di tempat ini, karena saya bosan menyesal. Bosan menyesal... boleh bukan ? Lokakarya selesai sekitar pukul satu siang, para peserta beranjak pergi ke auditorium untuk mengikuti sesi diskusi yang selanjutnya, dan saya juga beranjak menghampiri kawan saya Arie Mindblasting (salah satu panelis diskusi utama di auditorium) yang saya ketahui sudah semenjak pertengahan diskusi kalau dia juga hadir di ruangan tersebut, sekali lagi saya menjumpai wajah yang familiar, sekali lagi saya merasa aman. 

Bersambung.

N.B. : Saya tidak tahu apa yang terjadi dan apa yang akan dipikirkan Rizkan kalau seandainya dia tidak berhalangan dan menjadi panelis pada lokakarya tersebut. Saya belum sempat bertemu lagi dengan dia, sungguh, saya rindu.

Senin, 24 November 2014

Wawancara dengan Sete Star Sept dan tertundanya Ear Alert Zine #2

Berikut ini suguhan pertama dari kami, deretan hasil transkrip wawancara kami dengan Sete Star Sept (Kae dan Kiyasu), dan akan segera disusul dengan suguhan-suguhan lainnya, lama dan baru, tapi segera. Sebetulnya wawancara ini akan kami ikut sertakan pada Ear Alert Zine jilid 2, yang rencananya akan diterbitkan pada perhelatan Indonesian Netaudio Festival ke-2 di Bandung. Namun adanya waktu tersapu oleh kejamnya prosedur akademis yang harus dijalani, dan kami menyesal. Oleh karena itu, karena kami bosan menyesal, kami akan tetaskan transkrip wawancara yang sudah lama kami erami ini, dengan tidak menutup kemungkinan nantinya Ear Alert Zine jilid 2 akan tetap dicetak dan disebarluaskan. Oh iya, wawancara ini sementara kami sajikan dalam bahasa Inggris, mungkin nanti ketika dicetak, akan ada versi bahasa Indonesianya. Dalam wawancara ini Kiyasu lebih banyak bicara dibandingkan Kae, karena Kae tidak mahir berbahasa Inggris. Dan kami juga tidak betul-betul mahir. Jadi, mohon maafkan segala kesalahan. Itulah adanya bahasa. Silahkan.

Kami (K) :  Hey, SSS, wow when I abbreviated your name, it’s remind me to Yogyakarta’s noise-rock band named Seek Six Sick, have you ever heard about them ? 

Kiyasu (K2) : Nope, never, sorry haha, it’s hard to get the information about Jogjakarta’s bands, we have the internet but there are no information in English you know, for Jogjakarta’s band.

K : You’re on tour right now, so can you tell us lil bit about your tour ?

K2 : About the Asia tour ? aaaaa, we start the tour since two weeks ago, started from Philipine, and then Thailand. And this week, we start the Indonesia tour, we’ve played in Bandung and Jakarta, and tomorrow we’re gonna do the Jogjakarta gig. And this is the first big Asia tour. 

K : Is there any memorable experience from the tours ?

K2 : Hmmm, the memorable experience happened back in 2011 when we came to Jogjakarta, the bus wrecked. Then whene we arrived at Jogjakarta, we missed the show… so we want to do revenge, and it’s tomorrow. We’re on fire !!! hahaha.

K : Have you ever think to make SSS, as a political band, to put somne political ideas ?

K2 : Actually, we don’t have any political ideas, we just enjoy the noise. Yes we do make some lyrics about that, but it’s fake you know, because actually lyric have no meaning for us. It’s all about the noise.

K:  So, when you write some lyrics, what kind of message that you put there ?

K2 : Many kind of message, like fuck the government, fuck the system, gore stuffs…. and…

K :Every single thing you hate maybe ?

K2 : Yes, that’s right.

K : But, can you tell me your opinion about political underground band ? You know some bands that put political messages on their lyrics. What do you think about them ?

K2 : I really don’t think about it. I don’t mind. I just enjoy the noise. As long it’s noise. Fuck off music. Fuck off everything. Fuck off everything… everything everything fuck off… just the noise… fuck off everything… destroy everything…

K : You say all about the “fuck off everything” stuffs, so I think it’s close with the idea of being free ? So what do you think about “the idea of being free” in a band, politically and musically ?

K2 : Hmm, so when we make a song, we have to make the riffs, the tempo, the parts, and compose everything. You know, for me it’s boring, so we just making noise, play and improvise it. So I want to try to make more weird music, weird noise. Unstructured. And fucking brutal, fucking noisy and just fuck everything !!! Hahaha

K : Hahaha great answer, thanks. And I’ve listened to your Visceral Tavern, your latest LP. It’s kinda remind me with the concept in “Gero Me” tapes. Kinda different concept with “Revision of Noise” for me. Because I think you made more structured condition in “Revision of Noise”. So, what I want to ask is, why do u choose this style of noisecore to play ? Because it is easier ?

K2 : Yes off course, it’s easier. I think it’s like the old-school type of hardcore music, grindcore music and metal music. But in Gero Me and Visceral Taverns, we improvise all the elements, noisecore must be more noisy, and more destructive. I wanna make more new stuffs, more new music. Extremely fast, very intense. Yeah.

K : Yeah yeah, I think the difference between Visceral Tavern and Gero Me is the production of the sound. I think Gero Me is more on bad production and Visceral Tavern is more on good/clean production. So, which do you prefer ?


K2 : Both of them. Some of the album we wanna make more bad quality. But Visceral tavern is more on clean sound, I try to balance all of them. Some of them very bad, some of them very bad. We need balance you know. Maybe, I don’t know, the next album we’re gonna make very bad sounds, very bad quality, we can use cheap tape recorder, more cheap sound, like “sksksksksksksksksksks”, yeah, we always plan it all the time. We need balance. That’s the reason. 

K : And I’ve seen some of your releases artwork is being drawn by Shintaro Kago, do you guys often hang out together ? Why do you choose him to done the artworks ?

K2 : Yeah, but not often hanged out together with him, just one of my friend is a friend of Shintaro Kago, so I ask him to draw us for the “Gero Me” album, and he said Ok. And we discuss the concept on email, we didn’t meet each other actually. I told him the concept of the album, the title, and I then I tell him the concept of the artwork. And then he do the cover. And you know, Shintaro Kagos’ artwork is very ‘noise’, I feel very similar, nothing but very good, like noise, like our music. So i really fond of Shintaro Kago. 

K : And also, I’ve seen Eddy from Argot ever contributed artworks for SSS. Have you guys checked his noise project ? What do you think about Indonesian noise/experimental scene ?

K2 : Yes, I’ve checked his noise project, one of my favourite noise project from Indonesia. And Indonesian noise/experimental scene I think it’s getting big. In Japan there are a lot of noise musician, I think Indonesian noise/experimental scene have the same passion like 90s era if noise/music in Japan, that’s why I like Indonesian noise projects. And I really need more information about Indonesian noise/experimental scene.

K : Okay, I’ll give you the information afther this. So, next question…. you know AKB48 and the 48 Family right ?


K2 : Yes. Yes we know them.

K : Do you enjoy or liking them (idols) ? 

K2 : I don’t really know about idol actually, you know, i normally don’t listen to idols.

Kae (K3) : You know, but old japanesse idol, all of them is very special girls. All the idols.

K:  So not only from the Kawaii side right ? But Kiyasu, don't you enjoy their Kawaiiness ? Even you’re not listening to their songs haha.

K2 : It’s not special in Japan, kawaii things is not special in Japan. So if you go to Japan you can find any kawaii girl on the street. It’s not only about idol. People put make ups, dress up, and then they become Kawaii. But off course, I like Kawaii girl. Why not ? hahahaha

K : Hahahaha, so I wanna tell you that the idol things from Japan, it have a great impact for the boys in the Indonesian underground-diy-indie scene. Is the same happen in Japan ?

K2 : Yes yes yessss, a lot of them. Many of them, still do the underground activities, while they liking the idols. 

K :  Thanks for the information! hahaha So next question, Since this is a netlabel zine interview, what do you think about freeing your stuffs on the internet ? It haves impate right, financially and socially.

K2 : I don’t really care about it, if you like the music, you can use it. We make noises you know. I don’t really care about finance or anything. We just focus to make the noises. I don’t care if my album not sold out or anything, I just want to keep playing. But, you know, I want so sell them CDs, because it’s more real, more physical, and I have to keep touring, so I need the money you know. I‘m making money for the tour, from the cds. But on the internet, I can’t really control it, very hard to control it. So I don’t really care about it, if people download it. That’s okay, because you know, we can’t control it.

K : So, which do you prefer let them get it free, or make them pay for the releases ?

K2 : Hmmm.. I prefer get paid, off course, because you know I have to get the money for funding the band, to keep the band alive. But that’s okay if they’re download it…. No… Not okay actually… you know what it means. 

K : Do your band's income could give you life ? I mean do they helped you out to pay the bills ? 

K2 : Yes, it can be. But I think, it’s very hard to do it. You know, if we go back to Japan, we make money from part-time jobs. But if I able to make money from music, I’ll do it.   

K : Yes, it would be great if we can get income from our hobbies. Then, how you able to keep grinding while you have to pay the bills ?

K2 : Well, it’s depend on the destination of our tour, in US and Europe we got the money from the shows. And sometimes we loose the money for transportation and accommodation. But when I go back to Japan again, I make some money again by doing the part-time jobs. That’s why we releasae a lot of CDs, and also merchandises, because we really need it for the tour. Try to keep grinding. But because grindcore/noise music is small things, is hard to get money from it.

K : Yes yes, good answers man. So, last question, what’s your deepest desire from ur heart for your own country and the underground scene there ? Any message for our readers ?

K2 : Hmm, I hope, I able to keep making noises and playing drums. I want the scene stay alive. In Japan there are a lot of good noise project, also in the 90s, like Merzbow and other noise artist. But nowadays, it’s not a lot anymore. They give up to keep the music, they leave the music. I want the scene just keep growing up. And for the readers, just don’t give up for playing the music and for future. Because many people in Japan give up the music and choose to live normal, doing works and stuffs. 

K3 : I want the underground music like grindcore or noisecore getting more big. And the message from me is… you know my Sete Star Sept vocals like “Kyaarghh” “Oghhh” “Egghhh”, I want all the audiences in the show, screaming together with me, from the bottom of their heart. Singing together “aaarrrghhhh”.

K : Yeah yeah yeah, heart of noise haha. Great answer from you guys, thanks a lot, and good luck for the tour. And.. sayonara~

K2 : Yes haha, sayonara.

K3 : Terima kasih!! :D 

Foto mesra dengan Kae-san.

Foto bersama Kiyasu dan CD-R sampler rilisan Ear Alert Recs.

Sudah dilegalisir.

I miss you, Kae-san :(