| Sumber gambar : http://bit.ly/1yn11mn |
Salah satu liputan yang saya buat ketika webzine milik saya dan teman-teman (yang kini sudah tidak aktif lagi), Alphabeta Journal, menjadi media partner untuk event Festival Film Dokumenter 2011 yang diadakan di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Mengapa saya memilih liputan ini untuk saya unggah ulang ? Karena dari melakukan liputan ini saya mempelajari bagaimana menghargai, dan tidak menjadi orang yang takut dengan sesuatu yang tidak diketahuinya. Jujur saja, waktu itu bisa dibilang saya adalah orang yang amat takut dengan waria atau penyuka sesama sejenis (laki-laki yang suka dengan laki-laki lain secara seksual). Saya datang ke lokasi pemutaran film yang terletak di Amphitheatre TBY sedikit terlambat, dan film sudah mulai diputar. Saya duduk di bangku paling atas karena lokasi sangat gelap, yang membuat saya memutuskan untuk tidak berlama-lama dalam memilih tempat duduk, karena saya juga ingin menonton film tersebut. Hal yang lebih memperngaruhi pandangan saya tentang waria selain dari menonton film tersebut, adalah tanpa saya sadari ternyata sebagian besar dari audiens yang datang malam itu adalah waria. Orang-orang yang duduk di kanan dan kiri saya ternyata semuanya adalah waria, dan saya baru menyadari hal itu setelah sekitar setengah jam setelah saya duduk di tempat itu. Saya merasakan pandangan mata dari orang-orang yang duduk di sekitar saya, menuju ke arah saya, pandangan centil dan penuh akan ketertarikan itu. Saat itu, terus terang saya merinding, dan takut kalau akan digoda. Namun, karena saya harus bisa fokus menonton film tersebut, dan membuat liputan pemutaran yang serius karena akan dicetak dalam bentuk newsletter keesokan harinya, saya berusaha mengusir rasa takut itu.
Lama-kelamaan saya kok jadi merasa bodoh sendiri. Orang-orang di sekitar saya itu memang melepaskan pandangan mata ke arah saya, tetapi saya tidak mengalami gangguan apapun, malahan pandangan mata itu adalah cara manusia menatap manusia lainnya dengan cara yang paling ramah, sejauh ini yang pernah saya rasakan. Buat apa saya takut ? Bodoh sekali. Setelah berhasil menghapus rasa takut itu sama sekali dari saya, saya pun juga berbalik melihat mereka tatapan yang ramah pula. Bukan berarti terus saya ikut mengganti orientasi seksual dan perilaku saya sebagai laki-laki, namun dengan tidak terlalu banyak membuang waktu memikirkan hal tersebut, cukup memikirkan tentang 'hubungan baik' antara manusia saja, rasa takut akan hal yang tidak kita ketahui itu akan hilang. Positive thinking singkatnya. Seusai menonton film dokumenter tersebut, saya malah jadi bersemangat dan penasaran, semangat saya lontarkan dengan melempar senyum ramah pada mereka tanpa rasa canggung atau takut, dan rasa penasaran saya obati dnegan meminta beberapa testimoni dari Mbak Sinta (salah satu tokoh waria di Yogyakarta) untuk liputan saya. Kira-kira begini liputannya :
"Film dokumenter
berjudul “Wariazone” oleh Kiwa Noid dan Terje Toomitsu, diputar malam itu
(06/11) pada pukul 19.00 di Amphiteater Taman Budaya Yogyakarta. Suasana
pemutaran film tersebut tampak ramai, tempat duduk pun terisi penuh oleh
penonton dan beberapa waria yang
berperan sebagai narasumber dalam film “Wariazone”. Film ini mengungkap sisi
lain kehidupan dan kerumitan identitas dari waria,
dimana stigma masyarakat yang ada selalu menimbulkan presepsi buruk dan
menyudutkan para waria. Film ini
terbagi beberapa chapter dalam hal
pembahasan tentang waria, mulai dari konflik, ketidaknyamanan sampai masalah
kepercayaan yang dianut oleh waria.
Waria yang ada
didalam film tersebut salah satunya adalah Mbak Sinta, seorang waria yang
disebut sebagai waria legendaris dari kota Yogykarta. “Harapan saya masyarakat
terutama akademisi dan orang-orang film dapat mengenal sisi waria yang ada di
Yogyakarta dan di seluruh Indonesia itu seperti apa, mudah-mudahan dengan adanya
film ini bisa mengangkat kita ke sisi yang lebih baik” ujar mbak Sinta mengenai
ditayangkanya film “Wariazone” di Festival Film Dokumenter. Mbak Sinta yang
malam itu hadir untuk menonton “Wariazone” juga berpesan, film-film seperti ini
memang harus ada, juga bukan hanya pada kalangan akademisi tapi juga kalangan
pelajar agar mengerti bahwa gender itu tidak hanya male dan female saja.
Tidak terasa 58 menit sudah berlalu dan usai sudah pemutaran film “Wariazone”,
penonton bertepuk tangan meriah dan puas dengan apa yang ada didalam film
tersebut. Acara pemutaran ditutup dengan sesi tanya jawab antar penonton dengan
sang pembuat film."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar