Rabu, 31 Desember 2014

Daftar Tahunan - Pengalaman Musik di Tahun 2014

Perkenalkan, ini daftar tahunan saya. Daftar tahunan ini saya ciptakan untuk mencatat hal-hal yang terjadi pada tahun 2014, khususnya di bidang musik. Catatan-catatan ini adalah sebuah persembahan kepada hal-hal yang dengan senang hati masuk ke dalam dimensi kehidupan saya, kemudian menyatu, menjadi sebuah bangunan kokoh pengalaman. Pengalaman-pengalaman tersebut saya bagi menjadi dua bagian, yaitu pengalaman tubuh utuh dan pengalaman tubuh sebagian. Pengalaman tubuh utuh adalah ketika saya hadir dalam sebuah event musik, sedangkan pengalaman tubuh sebagian adalah ketika saya melakukan interaksi dengan musik yang saya dengar melalui suatu dimensi ruang dengar personal. Berdasarkan hal-hal yang sudah saya ungkap sebelumnya, lalu saya kembali membagi daftar tahunan saya menjadi seperti ini: Pengalaman Tubuh Utuh Bersama Musik di Tahun 2014, Pengalaman Tubuh Sebagian Bersama Musik Non-Lokal di Tahun 2014, dan Pengalaman Tubuh Sebagian Bersama Musik Lokal di Tahun 2014.

Pengalaman Tubuh Utuh Bersama Musik di Tahun 2014

1. Indonesian Netaudio Festival 2014 (15 November 2014, IFI Bandung);
2. Jogja Noise Bombing Fest 1 & 2 (7 & 13 Oktober 2014, Bentara Budaya Yogyakarta dan Kedai Ayam Gepuk Pak Gembus);
3. Kebun Binatang Kombo 1 & 2 (23 September & 19 Oktober 2014, Kebun Belakang Rumah Jimi Mahardikka);
4. Konser Paduan Suara Eksperimental "Raung Jagat" (29 Desember 2014, Kedai Kebun Forum);
5. Pemutaran Film Dokumenter "Kaun Hai Hum, Hum Yaahan Hai" (4 Juli 2014, IFI Yogyakarta);
6. Rabu Renjana Tur 2014 (26 Juni 2014, IFI Yogyakarta);
7. Lelagu #9 "Hiruk Pikuk" (16 Mei 2014, Kedai Kebun Forum);
8. Diskusi - "It's Sounds Like A Whisper"  - Musik dan Gerakan Demokrasi Dekade 90’an. (22 OKtober 2014, PKKH UGM).


Pengalaman Tubuh Sebagian Bersama Musik Non-Lokal di Tahun 2014

1. SKE48 - 14th, 15th, & 16th Single (2014)





2. Especia - GUSTO (2014) + Negipecia - Girl's Life [Single] (2014)



3. BiS - Final Dance [Single] (2014)


4. Swans - To Be Kind (2014)


5. Luminous Orange - Soar, Kiss The Moon (2014)


6. Sopor Aeternus & The Ensemble Of Shadow - Mitternacht (2014)

Sayang sekali, begitu sulit untuk mencari video atau situs yang menyediakan preview dari album ini. Buat anda-anda sekalian yang penasaran, ini silahkan saya beri tautan untuk mengunduh album ini. 

Unduh "Mitternacht" via The Old Oak

7. Godflesh - Decline And Fall [EP] (2014) + World Lit Only By Fire (2014)




8. Cynic - Kindly Bent To Free Us (2014)

 
9. Eyvind Kang - The Book of Angels, Vol. 21: Alastor (2014)


10. Iceage - Plowing Into the Field of Love (2014)


Honorable Mentions :
Gotō Mariko - Kowareta Hako ni Rinakkusu (2014)
Shiina Ringo - 日出処 (2014)
Scott Walker + Sun O))) - Soused (2014)
Shellac - Dude Incredible (2014)
Merchandise - After The End (2014)
Self Defense Family - Try Me (2014)

Pengalaman Tubuh Sebagian Bersama Musik Lokal di Tahun 2014
1. Senyawa - Acaraki (2014)

2. Zoo - Benteng Troya [Single-Preview] (2014)
 
3. Sangkakala - Heavymetalithicum (2014)

4. Rully Shabara & Rudy Wuryoko - Wirok (2014)

5. Rully Shabara dan Soni Irawan - Seroja (2014)

6. bedchamber - perennial e.p. (2014)

7. Marsh Kids - The Many Failings Of Bugsy Moonblood (2014)


8. Morgue Vanguard x Still - fateh (2014)

9. Vague - Footsteps (2014)

10. Sore - Los Skut Leboys Cassette (2014)

 
Honorable Mentions: 
Maliq n D'essentials - Musik Pop (2014)
Cloudburst + Warmouth Split (2014)
Energy Nuclear - All Humans Are Weird (2014)
Sodadosa - Luka [Single] (2014)
Rabu - Doa Renjana [Single]

Senin, 22 Desember 2014

Pengalaman Mendengarkan : Indra Hermawan, Rully Shabara, Uya Cipriano, & Zamani Karmana - Titik Kebahagiaan (2014)

sumber gambar




Intorduksi :

Pengalaman Mendengarkan adalah judul yang saya buat untuk setiap ulasan saya pada laman blog ini tiap kali saya mengulas 'objek dengar' yang bentuknya adalah album penuh, mini album, ataupun hanya satu lagu saja. Saya berniat untuk terus membuat ulasan-ulasan dengan tajuk ini di waktu senggang saya, dengan tujuan memberikan cerita kepada pembaca sekalian tentang apa yang terjadi, atau narasi yang merupakan buah dari reaksi ketika saya melakukan interaksi di dalam suatu dimensi alam pendengaran, dimana saya (sebagai pendengar) bertemu dengan 'objek dengar-objek dengar' dan melakukan interaksi non-fisik melainkan batiniah dengan 'objek dengar' tersebut, yang biasanya memberikan 'bekas' pada saya tentunya dengan adanya interaksi dalam ruang dengar tersebut. Karena, pada dasarnya tiap 'objek dengar', apapun bunyinya, sesingkat apapun mendengarkannya, pasti paling tidak memberikan suatu 'bekas' bagi para pendengarnya. Pada kesempatan yang lain nantinya, kalau ada waktu senggang lagi, saya juga ingin membuat seri tulisan Refleksi (atas karya-karya yang saya buat sendiri), seri Resensi Band Lokal (saya akan membuat ruang bagi saya untuk blak-blaka'n dalam mengutarakan isi hati saya tentang band-band yang berasal dari Indonesia), dan seri Pertanyaan (sesi tanya jawab yang melibatkan tokoh-tokoh dari skena musik/seni yang menarik perhatian saya secara personal). Tidak menutup kemungkinan akan ada seri-seri lainnya yang lahir bersamaan dengan berjalannya proyek-proyek ini, saya hanya bisa berharap proyek-proyek ini bisa berjalan lancar sembari memuaskan hasrat saya dalam menulis. Untuk terus belajar menulis hal-hal yang saya suka dengan 'baik'. Salam.

*****

Padal tanggal 13 Desember 2014 lalu, Teater Garasi dan HONF Foundation menyelenggarakan acara dengan judul What's Your Story Today (WYST). Acara yang aktifitasnya terdiri dari dua workshop (tanggal 12 Desember 2014 di SD SALAM Nitiprayan dan Selasar Teater Garasi), dan satu presentasi publik (tanggal 13 Desember 2014 di Selasar Teater Garasi) ini adalah sebauh proyek laboratorium kesenian yang fokusnya adalah kesenian dengan medium suara. Pada perhelatan ini seniman-seniman yang menjadi peserta dari WYST diberikan kesempatan untuk (selain bertemu dengan Otomo Yoshihide) dapat saling bertukar pikiran terkait konsep-konsep yang mereka bawa sendiri dalam berkesenian dengan medium suara, dimana nantinya hasil dari tukar pikiran mereka tersebut akan digunakan sebagai landasan untuk bergerak pada proses selanjutnya, yaitu presentasi publik atau melakukan jamming (entah dengan menggunakan metode improvisasi atau suatu sistem baku dalam membangun suatu komposisi) bersama dengan pasangan-pasangan yang telah ditentukan sebelumnya. Seniman-seniman lokal asal kota Yogyakarta yang menjadi peserta dalam perheltan ini antara lain ada Indra Hermawan, Jay Afrisando, Rully Shabara, Uya Cipriano, Jimmy Mahardhika, Mohammad Sofyan Hadi Purnomo, Raphael Doni, Asa Rahmana, Eka Jayani Ayuningtyas, Taufiq Aribowo, dan Zamani Karmana. 

Saya tidak dapat menghadiri acara tersebut (workshop dan presentasi publik) karena ada benturan dengan urusan lain. Beruntungnya rekaman bunyi-bunyi buah kolaborasi dari para seniman tersebut kini  sudah dapat diakses di lama soundcloud WYST dengan kualitas suara yang jernih. Saya baru sempat mendengarkan buah kolaborasi dari Indra Hermawan, Rully Shabara, Uya Cipriano, dan Zamani Karmana (yang selanjutnya akan saya sebut dengan IRUZ). Karena durasi dari masing-masing kolaborasi yang cukup panjang (20-30 menit) maka baru bebunyian dari seniman-seniman tersebut yang saya dahulukan (berdasarkan rasa penasaran personal saya) untuk saya dengarkan dengan fokus, dan akibat dari peristiwa interaksi saya dengan bebunyian tersebut, saya secara spontan ingin menulis kronologi dari pengalaman saya setelah alam pendengaran saya dikunjungi oleh bebunyian tersebut. Buah kolaborasi dengan judul 'Titik Kebahagiaan' yang diciptakan oleh IRUZ ini berdurasi 29 menit 16 detik, durasi paling lama dibandingkan dengan buah kolaborasi yang lainnya. Bunyi (keseluruhan atau kesatuan dari masing-masing bunyi yang dibuat oleh para kolaborator dari sesi ini) ini diawali dengan bayang-bayang suara yang nampaknya berasal dari synthesizer analog yang karakternya mendekati feedback milik Indra Hermawan, juga petikan gitar yang sepertinya diproses dengan efek flanger yang membuat keluaran petikan gitaran tersebut seperti sesuatu yang merayap secara terarah karena dikomandoi oleh chord-chord oleh para gitaris yang melantunkan bunyi-bunyi tersebut. Awal dari kolaborasi tersebut juga diberi sentuhan gema dengungan nada rendah oleh dari mulut Rully Shabara. Saya tidak tahu secara pasti siapa dalang dari tiap bunyi gitar yang terlantun karena tidak atau belum ada gambaran visual dari buah kolaborasi ini, dan saya rasa hal itu tidak terlalu krusial karena menurut saya lantunan permainan gitar dari Uya Cipriano, dan  Zamani Karmana bisa dibilang memiliki kemiripan apabila kita merujuk pada karya-karya yang merka buat bersama Last Elise dan Individual Life. 

Selain bunyi-bunyi yang keluar dari instrumen seperti synthesizer analog dan gitar beserta efek yang menjadi prosesornya, Rully Shabara kemudian hadir mencampuri kesatuan bunyi sebelumnya dengan aksi komat-kamit yang dimulai dari komat-kamit yang terbata-bata sampai menjadi komat-kamit yang beraturan, repetitif, singkat, dan berkecepatan tinggi yang tiap dari akhir komat-kamit tersebut diteruskan dengan lolongan bernada rendah maupun tinggi. Terkadang disisipkan pula raung yang lepas khas miliknya yang seperti hamba sedang memanjatkan doa. Bunyi-bunyi dari perangkat keras milik Indra Hermawan, Uya Cipriano, dan Zaka Karmana yang lantunanya masih meraba-meraba pada awal kolaborasi sepertinya sudah mulai bersatu dalam satu arah yang sama, dan lolongan-lolongan dari Rully Shabara juga sudah menjadi lebih tenang dari sebelumnya. Bisa dibilang bunyi-bunyi itu malah saling menyelimuti, sudah mulai menjadi satu kepaduan. Pada tengah dari menit keenam bebunyian yang sudah mulai teratur tersebut, Rully mulai meletakan kata-katanya pada aliran bunyi yang ada, "Kebahagiaan, kau bilang... kebahagiaan, kau bilang... semudah itu kau bilang...", ungkapnya. Kata-kata ini mengingatkan saya pada cerita pendek-cerita pendek yang dimuat dalam buku kedua Rully Shabara, cerita pendek yang dibalut dengan irama cerita yang kuat, kata-kata menohok, dan gaya personal yang samar. Sambil kembali komat-kamit, Rully kembali melanjutkan sabdanya yang berbunyi, "Sepatah kata kebahagiaan... sepatah kata kebahagiaan... sepatah kata kebahagiaan... lima suku kata.. KE-BA-HA-GIA-AN". Suatu akhiran yang sadis untuk menuju adegan lain dari peristiwa kolaborasi bebunyian yang dimainkan oleh empat aktor asal Yogyakarta tersebut. 

Memang menarik untuk menyimak bunyi berjudul 'Titik Kebahagiaan' ini mengingat masing-masing aktor memiliki latar belakang bermusik yang berbeda. Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, bebunyian-bebunyian tersebut tampak sudah bersatu, dan chemistry dari para aktor bunyi tampak sudah bertemu. Adegan selanjutnya saya seperti merasakan suguhan singkat beat-beat dari syenthesizer-synthesizer analog milik Indra Hermawan yang diikuti oleh desah tebal nafas yang keluar dari mulut Rully Shabara, dimana petikan-petikan gitar yang dilantunkan oleh Uya Cipriano dan Zaka Karmana tetap merayap teratur ditengah tiap perubahan adegan yang dibuat oleh Indra Hermawan dan Rully Shabara. Sampai kemudian Rully Shabara mulai melolong rendah lagi, diselingi dengan ungkapan kata-kata yang sama dengan sebelumnya yang dibawakan dengan suara yang nampak seperti lenguhan binatang buas. Kemudian memuncak pada pekikan singkat sebagai tanda pergantian adegan menuju ke adegan yang selanjutnya. Kali ini sepertinya petikan gitar yang terus merayap tersebut berganti memberi arah kepada kedua aktor bunyi yang tadinya sempat menjadi penanda pergantian adegan bunyi yang sebelumnya. Menuju ke adegan bunyi yang lebih dalam lagi, yang mulai tampak ombak-ombak bunyi yang lebih intens dan gelap. Perjalanan menuju terang tersebut disinari pancaran lolong dan raung gaya bebas dari Rully Shabara yang kemudian menghasilkan suatu sajian adegan rayapan-rayapan suara dengan nuansa dan suasana trance alias mabuk. Untuk saya tahap trance atau pelepasan ini, dalam suatu kolaborasi berbasiskan metode improvisasi seperti ini, adalah tahapan yang paling nikmat ketika anda hadir sebagai pemain yang sedang melakukan suatu improviasi maupun sebagai penonton yang hadir untuk menyimak buah dari kolaborasi tersebut. Terhitung sejak menit ke 19 dari buah kolaborasi ini sampai menit ke 29, suasana yang disajikan adalah pemandangan bunyi pada fase memabukkan yang terus terlantun pelan, dan mengendap lamban menuju akhir. Suatu ketidakteraturan dalam kesepaduan bunyi-bunyi yang dilantunkan dari masing-masing aktor bunyi, membuat keberadaan dari bunyi tersebut menjadi nirtafsir. Begitu jelas terpancar kenikmatan surgawi yang dirasakan oleh para aktor bunyi melalui kesepaduan bunyi yang mereka buat dalam kolaborasi ini. Selamat menikmati.



Pertanyaan Untuk Rully Shabara. Tentang : Seroja

Sumber Foto

Sejak kapan dan bagaimana ide-ide kolaborasi seperti ini muncul ?

Munculnya ya karena keinginan akan suatu Kepuasan. Kalau Zoo atau Senyawa, kan sudah punya konsepnya sendiri-sendiri. Seperti di Senyawa, aku sudah punya kecenderungan bernyanyi yang seperti itu. Senyawa juga itu ada karena aku pengen nyoba, kalau aku kolaborasi dengan Wukir akan seperti apa jadinya. Proyek sampingan lah. Senyawa itu aku anggap sebagai band ‘metal’ku. Nah, kalau kolaborasiku yang lain, misalnya aku mau bikin proyek folk, aku ajak Soni. Aku mau bikin proyek punk, aku buat Wirok. Ingin bikin musik etnik, aku main dengan Tony. Jadi, intinya aku ingin bikin bermacam-macam musik, tapi dengan gayaku. Biar tidak bosan. Kalau aku bosan dengan band utamaku, aku bisa buat sesuatu dengan proyek sampinganku. Ketika aku kembali lagi ke band utamaku, akan jadi terasa lebih segar. Sekalian cari ilmu juga. Lalu, karena konsep yang berbeda-beda aku jadi merasa segar terus, karena uneg-uneg ku yang tidak bisa keluar di band utamaku bisa aku keluarkan di tempat lain, supaya tidak ada tekanan batin. Dan itu tidak akan ada habisnya, kalau bosan lagi, ya bikin lagi, tidak masalah.

Berarti kan tiap proyek kan mempunyai kesegarannya sendiri-sendiri mas. Lalu, apa sih kesegaran Seroja sendiri yang membuat kesegaran milik Seroja itu berbeda dengan kesegaran yang dipunyai oleh proyek kolaborasi yang lain ? 

Seroja itu segar karena pada awalnya proyek tersebut ditargetkan menjadi band folk, tapi karena aku mengajak Sony, gitaris noise yang ‘seperti itu’, akhirnya malah jadi sesuatu yang segar itu tadi. Karena, tidak menjadi folk yang aku harapkan, malah jadi sesuatu yang ‘lain’.  Nah, itu yang aku suka, karena tidak tertebak dan tidak sesuai yang aku duga, malah jadi sesuatu yang baru. Dalam memilih teman kolaborasi kita juga harus pintar-pintar memilih. Menurutku, kita harus bisa membaca mau berkolaborasi dengan siapa, tidak bisa sembarangan memilih partner berkolaborasi. Malah jangan skill bermusik orang tersebut yang kita lihat. Kalau aku, aku pasti membayangkan ketika gaya vokalku bertemu dengan gaya bermusik orang ini, akan menjadi seperti apa ketika kami berkolaborasi.

Apa anda ini orang yang memang menyukai bunga-bungaan ? Apa yang bisa anda ceritakan tentang bunga-bungaan ? Lalu, kalau ada, bunga favorit anda apa ?

Aku sebenarnya bukan pecinta bunga hahaha, pengalamanku dengan bunga itu tidak banyak. Ibaratnya kalau bumi kiamat, yang pertama akan aku selamatkan itu bukan bunga hahaha. Aku suka dengan bunga Anggrek, bunga Anggrek itu indah dan langka menurutku.

Apa anda orang yang relijius dengan segala konsep yang anda tuangkan di Seroja ?

Pertama tujuanku memakai dresscode di Seroja, itu karena aku ingin memberi kesan Melayu pada Seroja. Kalau masalah relijius atau tidak, aku bukan orang yang relijius. Bisa dibilang aku ini orang yang spiritual. Ketika aku membuat lirik, terlepas seperti apa bentuk musiknya, lirik-liriknya pasti tentang suatu kearifan. Spiritual itu idak ada kaitan dengan keTuhanan. Kalau relijius itu kan biasanya bicara tentang Tuhan, kalau spiritual itu kan lebih untuk diri kita sendiri. Sesuatu yang ada di  dalam diri kita sendiri.

Kenapa Soni Irawan, bukan Jimmy Mahardhika ? Apa dia itu sosok yang spiritual dan berbunga-bunga ? 

Jimmy itu orang yang lebih ‘gitaris’ daripada Soni menurutku. Aku tidak mencari gitaris yang jago buat main di Seroja, tapi aku lebih ingin punya gitaris yang spiritual hahahaha... Bukan seperti itu juga sih. Aku memang lebih dekat dengan Soni daripada Jimmy. Selain itu, kalau misalnya gitarisku Jimmy, bukan Soni, mungkin musiknya tidak akan jadi ‘seperti itu’. Jimmy lebih canggih main gitarnya, tapi Soni itu lebih 'noise'. Menurutku akan lebih mengejutkan ketika membuat proyek folk, dengan memakai gitaris yang lebih 'noise' daripada gitaris yang canggih permainannya. Pasti akan menjadi sesuatu yang lebih kontras dan tidak tertebak.

Senin, 01 Desember 2014

Catatan Perjalanan Saya di Indonesian Netaudio Festival #2 (Bagian 2) [Tamat]

gambar diambil dari sini

Lega tentu saja seusai menunaikan kewajiban sebagai panelis pengganti di lokakarya Creative Commons Music bersama mas Ivan, dan rekan-rekan yang datang pada lokakarya tersebut. Senang tentu saja hati ini, bisa berbagi pengalaman, dan saling melontarkan wawasan mengenai apa-apa saja yang bisa dilakukan dari Creative Commons. Hal-hal teknis, pengembangan, dan keyakinan. Meskipun tidak ramai, yang penting semua bisa dengar apa yang didengar, dan capai apa yang mau dicapai. Setelah merasa aman dan enak setelah bisa bertemu dengan wajah yang familiar lagi, yaitu mas Ari Mindblasting (baca Catatan Perjalanan bag. 1), saya pun ngintil beliau yang juga ngintili rekan-rekan yaitu para pembicara (Felix Dass, Robin Malau, Arie Mindblasting), dan sebagai moderator ada mbak Nuning, yang akan tampil dan menghantarkan kepada kami pengetahuan-pengetahuan yang mereka punyai, dalam suatu diskusi dengan tajuk "Musik, Teknologi, dan Masyarakat : tentang perubahan dan hal-hal yang tidak berubah". Saya belum bisa membayangkan hal-hal apa saja yang akan dibicarakan pada diskusi tersebut nanti dan malah jadi penasaran, saya memutuskan untuk ikut pada sesi diskusi tersebut yang akan dimulai sekitar jam 1 siang. Meskipun saat itu saya ngantuk sekali karena semalam tidur amat kurang, dan perut mulai lapar karena belum makan siang, saya tetap merasa harus hadir dalam diskusi tersebut, karena saya juga ingin memberi dukungan moral pada bung Arie yang bakal jadi panelis. Kembali ke bab ngintil, kami kemudian duduk-duduk di kafetaria IFI Bandung yang terletak di bagian depan, dekat parkiran. Para pembicara, moderator, mbak Tinta, tampak saling sibuk berbincang terkait persiapan diskusi yang akan diselenggarakan nanti siang. Saya jadi bingung mau melakukan apa, karena saya sudah minum kopi pagi harinya, dan memutudkan untuk tidak pesan apa-apa di kafetaria itu, saya akhirnya beranjak untuk membeli rokok merek gudang garam, mengecer di kios depan, tiga sampai empat batang mungkin cukup untuk membuang waktu sampai diskusi dimulai saya pikir. 

Sekembalinya dari membeli rokok, ada yang memanggil saya dari arah parkiran, ternyata itu Prabu Pramayougha (Saturday Night Karaoke/woodcabin.). Bagaimana tidak merasa aman, dan segar bukan kepalang, terakhir saya ketemu dengan beliau itu satu tahun yang lalu, bulan November/Desember kalau tidak salah. Saya bertemu beliau dengan rekan-rekan persekutuan kobaran nadanya, woodcabin., pertama kali itu pada acara BingoDIY di Jogjakarta, dan sempat juga band saya, dan woodcabin. main satu panggung, dan setelah itu jalan-jalan dan makan enak bersama di Gembuls, warung makan yang terletak di daerah Ciumbuleuit. Saya menghampiri dia untuk bertegur sapa, mengobrol sejenak sambil bersama berjalan ke arah kafetaria yang ternyata di sana sudah ada mas Mochamad Abdul Manan Rasudi (Manan) dan mas penggiat Zine dari Nangor (maaf saya lupa lagi nama kamu, maaf ya) yang sedang asik berbincang di kafetaria. Saya dan Prabu pun bergabung, tidak lama kemudian kawan-kawan yang lain datang, saya salami kawan demi kawan yang datang, ada kawan lama, ada juga kawan baru, meskipun saya tidak ingat semua namanya, mungkin kelak kalau bertemu masih bisa bertegur sapa karena masih ingat wajah. Setelah mungkin sekitar sepuluh menitan duduk-duduk di kafetaria, nampaknya diskusi utama di auditorium IFI Bandung segera dimulai, saya dan orang-orang yang ada di kafetaria segera beranjak menuju auditorium. Kondisi tubuh saya saat itu sungguh lemas, selain masih mengantuk, saya lupa kalau saya belum makan siang (setelah mengikuti diskusi utama di auditorium, saya baru tahu kalau perkumpulan panitia baik hati ternyata menyiapkan nasi dus, dan saya mendapatkan lalu memakannya setelah mengikuti diskusi utama, terima kasih panitia). Akibat kondisi tubuh yang lemas, saat memasuki ruangan auditorium saya sedikit tidak fokus, masa bodoh, langsung duduk depan sendiri saja, sama saja, pikir saya. Ya memang, sama saja, tidak ada bedanya, duduk di belakang atau di depan pun seperti biasa saya kalau menjadi peserta diskusi apapun lebih sering menjadi pasif daripada aktif berinteraksi dengan sesama peserta maupun pembicara. Lebih baik diam mendengarkan dan mencoba mendengarkan materi yang didiskusikan, pikir saya. Jahat ya. Iya.

Saya duduk, diskusi ternyata sudah dibuka oleh mbak Nuning selaku moderator. Para pembicara dipersilahkan untuk melontarkan buah pikiran-buah pikiran mereka masing-masing yang sesuai dengan tema diskusi siang itu. Saya tidak bisa langsung memahami arah pembicaraan pada diskusi tersebut, saya datang agak terlmbat, saya melewatkan materi pembuka yang disampaikan bung Arie. Seingat saya waktu itu banyak pembicaraan menyoal transformasi budaya pendistribusian musik (apapun bentuknya: musiknya sendiri, rilisan format fisik/digital, merchandise, dan lain-lain), juga ada pembicaraan menyangkut 'praktik bisnis musik' yang dilakukan oleh metode milik mereka masing-masing yang mereka terapkan, apa ruginya, apa untungnya, kira-kira begitulah seingat saya, meskipun saya tidak ingat semua. Ada juga pernyataan dari salah satu penanya tentang bagaimana hubungan antara penggemar musik, dengan metode distribusi (yang telah lampau) informasi mengenai musik atau musik itu sendiri dapat memberikan kenangan yang romantis bagi dirinya di masa itu (pengalaman tubuh, kalau saya boleh meminjam istilah mbak Nuning waktu itu) jika dibandingkan kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi sekarang ini dalam hal memenuhi kebutuhan tentang informasi karya musik dari musisi tertentu maupun karya musik dari musisi itu sendiri untuk didengarkan. Saya masih ingat tanggapan dari Felix dan Robin terkait hal tersebut, dan saya kurang lebih sependapat, bahwa apapun metode yang saya pakai demi mendengarkan maupun sekadar membaca biografi (terkait informasi tentang pencipta karya) suatu karya musik/non-musik tertentu, tetap memberikan saya efek romantis tersendiri, hal itu bergantung (mungkin) dengan mengena atau tidak mengenanya karya musik/non-musik tersebut pada diri saya, tidak terlepas dengan berbagai macam 'sub-metode' yang dipakai oleh masing-masing penikmat musik untuk mendengarkan karya musik atau informasi tentag musik yang diminati masing-masing penikmat, begitulah.

Saya cukup menikmati diskusi utama di auditorium siang itu, karena diskusi tersebut tidak seperti Indonesian Lawyer Club (ILC). Saya tidak suka ILC. Enak. Boleh juga. Diskusi utama di auditorium berakhir sekitar pukul tiga atau setengah empat sore, dan peserta pun berhamburan keluar dari auditorium. Ada yang melihat-lihat booth merchandise yang sudah ditata rapi oleh para pelapak, ada yang sholat, makan, dan lain-lain. Saya pun setelah memakan nasi dus yang diberikan oleh perkumpulan panitia baik hati, langsung bergegas menuju ke musholla IFI Bandung untuk menunaikan ibadah sholat Dzuhur yang saya jama' dengan sholat Ashar. Itulah enaknya ketika menjadi musafir buat saya, dua waktu sholat bisa disatukan, bisa diringkas pula rakaatnya. Jangan ditiru ya teman-teman. Seusai beribadah, seperti hadirin yang lain, saya juga jalan-jalan melihat pernak-pernik yang dijajakan oleh para pelapak. Hari itu, saya membeli 6 buah kaset split dari woodcabin. dan What The Sparrow Did To You (berpatungan dengan Arie, saya beli 3, dia beli 3, beli banyak karena teman-teman dari Jogja banyak yang ingin beli tapi tidak bisa hadir) rilisan Sailboat Records, juga Fami dengan judul album/EP "International Bitter Day" rilisan Elevation Records karena gambar sampul CD-nya yang menarik (meskipun sampai sekarang belum saya rip isinya untuk didengarkan, belum sempat), dan juga EP dari bedchamber yaitu "perennial" yang dirilis oleh Kolibri Records, yang membuat saya tertarik untuk menengok EP mereka karena perkenalan pertama saya dengan band ini adalah ketika mereka membawakan kembali lagu dari Potret yang berjudul salah. Hal itu sukses membuat saya senyum-senyum sendiri karena keenakan (ketika saya membaca liner notes yang ada di dalam EP mereka, liner notes juga mengutarakan hal yamg sama terkait cover version tersebut), saya sudah dengarkan CD-nya sambil menyetir di mobil ibu saya, materi-materinya memang adem dan apik. Kembali ke acara Indonesian Netaudio Festival #2 (INF #2), setelah puas jalan-jalan dan berbelanja, rupa-rupanya band pertama yang menjadi pembuka pertunjukan musik dari INF kali ini (INF Gig 2), sudah memulai lagu pertamanya. Gegap gempita suasana panggung woodcabin. tampak terdengar dari dalam auditorium. Saya segera menghabiskan rokok saya secepat mungkin, dan masuk ke dalam auditorium (karena di dalam tidak boleh merokok). Memang betul, sinting memang band ini, selain membawakan lagu-lagu milik sendiri mereka ternyata masih setia membawakan salh satu lagu wajib, yaitu Futari Nori no Jitensha versi JKT48 (sungguh mengobati kerinduan saya dengan hingar bingar BingoDIY, dan mengingatkan kehangatan suasana saat kami nongkrong di Gembul), yang kemudian dimedley dengan hits single milik Barefood yaitu Perfect Colour, memang betul-betul sinting. Dasar. Sinting. Sinting tapi lucuk.

Selanjutnya, setelah ada penampilan dari woodcabin., tiba giliran Silampukau dari Surabaya untuk menghiasi ruang auditorium yang masih sepi di sore menjelang malam itu selain dengan bebunyian. Sebelumnya saya pernah mengunduh gratis (EP/Album ?) dari Silampukau (saya lupa situs apa yang menautkan tautan unduh gratisnya), dan saya cukup terkesima dengan lagu mereka yang berjudul "Berbenah". Musiknya sungguh rileks dan sederhana, bagus. Saya yang masih setun (kalau boleh meminjam istilah milik Prabu) memutuskan untuk merebahkan tubuh di kursi lapang auditorium IFI Bandung yang masih sepi "penduduk", sambil sesekali memejamkan mata, dan sesekali melihat aksi panggung dari Silampukau. Meskipun sedikit terhalang karena ada orang yang duduk tepat di depan saya. Tidak apa-apa, santai sejenak, pikir saya. Tak terasa waktu bermain dan bernyanyi Silampukau sudah selesai, waktu menunjukan pukul 6 sore lebih sedikit, waktunya sholat Maghrib, saya keluar menuju mushola, sholat Maghrib, saya jama' lagi dengan Isya'. dua waktu menjadi satu, sekali lagi. Penampil selanjutnya adalah Neowax, lalu disambung oleh Elemental Gaze, yang mana kedua penampilan dari dua persekutuan kobaran nada tersebut saya lewatkan karena kesetunnan dan perut yang keroncongan ini tak bisa berkompromi lagi, saya malah makan nasi goreng sambil ngobrol-ngobrol lumayan lama dengan Prabu dan Reshan Janotama (E-chan/Ecan ?) dari Sobat Indie (Sobat Indie pada hari itu mengeluarkan terbitan khusus untuk INF #2, judulnya adalah Sobatdotcom, menarik). Oh iya, waktu makan nasi goreng ada juga Brian (woodcabin.), Avin (Amukredam/What The Sparrow Did To You), dan yang lainnya saya lupa karena, sekali lagi, saya sedang  setun. Terima kasih teman-teman sudah mengajak saya makan nasi goreng, kesetunan, malam hari itu pun lumayan terobati. Pada malam itu juga saya bertemu Faras (woodcabin./Cotswolds) Toro Elmar (Sailboat Records), Joph (Wota), dan Adythia Utama (Individual Distortion). 

Kembali ke INF Gig 2, saya yang sudah tidak terlalu setun masuk lagi ke dalam auditorium, menonton penampilan enerjik dari The Kuda, dimana pada waktu selang pergantian lagu, vokalis The Kuda (Adipati) sesekali mengungkapkan ke-bete-annya karena tidak boleh merokok di dalam auditorium. Untuk penampilan selanjutnya, Frau dari Jogjakarta. Ternyata auditorium tersebut sudah disulap oleh (sepertinya) mas Gufi dan mas Ojie seperti biasanya ketika Frau tampil di IFI Jogjakarta. Tempat duduk lebar yang tadinya begitu kosong dan sepi peminat kini penuh sesak dengan penonton yang memang sepertinya sudah menunggu-nunggu penampilan dari Frau sedari tadi. Sepertinya semua orang memang rindu dengan sihir yang mencerahkan, dan kesederhanaan unggulan yang dialunkan lewat paduan indah suara mbak Lani dan piano(?)nya, si Oscar. Sesuatu yang lain lagi dari pertunjukan yang biasanya adalah (atau memang saya yang belum pernah), ini kali pertama saya melihat semua penonton diajak, dan mau ikut bernyanyi bersama-sama dalam tembang "Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta Di Luar Angkasa". Saya pun tak kuat menahan rasa, dan ikut bernyanyi. Bernyanyi kali ini rasanya betul-betul seperti bercinta dengan suatu keberadaan, apapun bentuknya (ruh/benda), dan di dalam bercinta itu kita bersetubuh dengan ramai irama yang dilagukan dengan ikhlas bersama-sama, di ruang angkasa auditorium malam itu. Sejuk benar.

Dan sekarang tinggal dua penampil lagi. Band ini lah yang sudah saya tunggu-tunggu penampilannya, bahkan semenjak saya duduk berangkat dari Jogja. Yaitu Zoo. Saya sudah melihat video teaser album baru Zoo. Tembang baru yang digunakan di dalam video itu benar-benar menghantam saya. Bagaimana tidak, perhatikan pada menit 1:15-selesai, ijinkan saya mengutip bait lagu yang dinyanyikan Rully, "Apalah kita selain butir (?) yang terhempasi ombak yang tinggi" dan nyanyian yang mengaromakan kepasrahan diri,  "Lemahnya diri". Lirik dan komposisi tembang tersebut terasa begitu megah dan mantap. Waktu itu saya belum tau judul dari lagu tersebut, dan saya sangat penasaran dengan versi utuhnya (Saya begitu terkejut, ternyata ssaat saya merekam aksi panggung Zoo di Kafe Zob, tembang ini sudah dibawakan. Namun saat itu saya belum begitu familiar dengan tembang ini, mungkin karena waktu itu output bunyi yang dikeluarkan oleh sound system yang ada di Kafe Zob memang kurang memadai. Untuk melihat hasil rekaman saya yang berupa video, silahkan klik disini.) Beruntungnya saya. Sebelum ke Bandung, saya beberapa kali berkunjung ke Satya Prapanca (Kebun Binatang Film) nge-kos. Saya sempat diperdengarkan (atau waktu itu aku yang minta dengar Ca ?) versi utuh dari lagu tersebut. Judulnya "Benteng Troya". Setiap saya bertandang ke tempat kos Panca, saya selalu minta diputarkan lagu itu, tak pernah bosan saya, sampai-sampai hampir hapal semua lirik lagu itu, selalu berdebar ketika mendengarkannya. Rasa berdebar itu akhirnya terjawab, setelah membuka giliran tampil mereka dengan "Kedo-Kedo" dan "Manekin Bermesin" (disambut dengan teriakan-teriakan liar oleh para penonton yang memadati areal depan panggung), "Benteng Troya" kemudian disuguhkam. Zoo ketika membawakan tembang tersebut bak tentara Kraton yang menarik keris dari sarungnya, dan menodongkannya ke arah manusia lainnya. Jujur saja, saya  merasa terharu ketika tembang itu bisa saya dengarkan langsung di depan mata saya. Saya ikut menyanyikan beberapa kalimat yang saya ingat dari tempat penonton. Lalu tembang-tembang baru seperti "Babilonia", "Bahtera Nuh" (Saya tahu karena saya membaca urutan lagu yang diletakkan Rully dibawah stand microphonenya), dan "Pemuja Hari". Suer, urutan yang seperti itu hampir membuat saya menangis ketika menyaksikan penampilan mereka. Ini baru namanya pengalaman spiritual ! Hahaha. Penampilan dari Zoo ditutup dengan tembang klasik dari album "Trilogi Peradaban", permintaan dari  penonton, yaitu "Lalat". Mereka memang menuruti permintaan penonton, tapi sebelum lagu dimulai Rully menambahkan, "Mintanya lagu itu lagi, move on dooong", kira-kira seperti itu balasnya pada penonton. Baik kak Rull, Zoo memang sudah move on, tapi kami sepertinya belum bisa sepenuhnya move on dari tembang-tembang klasik itu juga.

Setelah menonton kobaran nada liar yang dilontarkan oleh Zoo dari atas panggung, saya merasa puas sekali, rasanya seperti berdarah-darah, terbang ke akhirat, mati dengan lega karena sudah meninggalkan beban-beban yang dibebankan oleh dunia di pundak saya. Berlebihan ya. Masa bodoh. Ya, saya kemudian beristirahat, rebah-rebahan lagi di bangku yang lagi-lagi sepi "penduduk". Saya memang bermaksud menonton Sigmun dari jauh karena malam itu Zoo sudah menjadi "pemenang" buat saya. Tak lama setelah saya pindah untuk merebahkan badan, Sigmun sudah memulai lagu pertamanya. Tapi anggapan saya itu semuanya berubah ketika lagu kesukaan saya dari mereka yaitu "Valley of Dreams" dibawakan, saya langsung berdiri, dan ikut bergabung dengan penonton di barisan paling belakang. Seusai membawakan "Valley of Dreams", Sigmun membawakan beberapa lagu baru, juga lagu lama yang saya tidak terlalu ingat bunyi dan judulnya. Menurut saya dari kandang bunyi dengan jenis yang seperti mereka mainkan, mereka memang yang paling menghangatkan dibanding yang lainnya, yang ssatu kandang bunyi. Selain itu juga ada favorit saya yang lain, yaitu Suri. Oh iya, saya kira hampir saja saya mengalami pengalaman mistis waktu itu, di deretan penonton tempat saya berdiri, samar-samar terlihat di sebelah kanan saya, ada bayangan putih sedang menari-nari dengan begitu lepas mengikuti riff-riff gitar memabukkan yang disiram-siramkan oleh Haikal Azizi (Bin Idris) ke arah penonton. Saya sempat merinding (merinding takut). Saya sudah beranggapan bahwa itu adalah makhluk halus yang ikut berpesta bersama manusia-manusia yang sedang menikmati musik Syaiton. Kemudian, saya coba memberanikan diri melihat ke arah tersebut, ternyata yang menari dari tadi itu adalah sesosok perempuan bule yang memang memakai baju putih-putih dan berambut panjang berwarna cokelat. Hampir saja saya kira itu semacam Jin yang sukses dibuat mabuk oleh Sigmun. Fyuh. Sebelum sempat berpikir apa-apa lagi, tiba-tiba intro dari tembang "The Long Haul" diledakkan. Spontan saya langsung berjalan cepat menuju arah sang drummer, yang menabuh genderang perang dalam tembang tersebut dengan begitu mantap. Seakan jenderal, Pratama pada drum (pada akhir acara pun saya menyempatkan diri untuk berfoto bersama beliau) hanya seperti melepaskan diri, menari bebas bersama udara yang ada di sekitarnya, dimana ketiga pasukannya (satu pemain bas, dan dua gitaris) seakan meliuk mengikuti komando tarian yang bebasnya bersama udara itu. Betul-betul seakan jenderal. Menganga saya dibuatnya. Sederhana, tapi mantap, strategi perang yang benar-benar jitu untuk menundukan budak yang gemar memberontak majikan seperti saya. Akhirnya saya tersadar. Memang betul hari ini tidak ada yang jadi "pemenang" dan "pihak yang kalah" atau "juara satu, dua, dan tiga", semua penampil menjadi tuan dari bunyi yang dilantunkanya sendiri. Sigmun menutup dengan megah dan manusiawi, Zoo membuka penutupan megah dan manusiawi itu dengan kemegahan dunia fauna. Itu kesimpulan saya. Keren.

INF Gig 2, selesai. Tak lama setelah mobil yang disewa oleh perkumpulan panitia baik hati dipakai untuk mengantarkan Zoo menuju ke rumah inap, kami yang tersisa (Saya, Arie, dan Anang) pun pulang ke rumah inap Dago Asri bersama Lintang dan panitia yang lain. Saya yang tak kuat menahan rasa ingin buang air besar langsung menuju kamar mandi, dan mengerahkan semua tenaga yang tersisa. Setelah lega menunaikan buang air besar, kemudian saya ikut bergabung dengan teman-teman yang masih nongkrong di halaman belakang. Halam belakang masih ramai oleh kawan-kawan dari Silampukau dan Zoo yang pada awalnya tidak tampak lelah, tapi kemudian ternyata tumbang satu per satu. Menyisakan saya, Bhakti, dan Obet. Kami ngobrol-ngobrol, begadang karena takut ketinggalan kereta jam empat pagi nanti (waktu itu kami sampai rumah jam dua dini hari, nanggung sekali). Bicara soal kehidupan, visi sekarang, dan kadang diselipi dengan saling melontarkan rekomendasi musik yang menjadi favorit sejak lama maupun yang sedang didengarkan akhir-akhir ini. Saat kami masih ngobrol namun dengan posisi tidur-tiduran, kebaikan hati panitia masuk menyela, kami disuguhi roti bakar untuk cemilan sambil begadang, terima kasih ya. Tak terasa, sambil mengobrol dan menyemil, waktu sudah menandakan pukul empat kurang sedikit, dan rupanya rekan-rekan lain (Rully & Dimek) sudah bangun. Setelah semua siap kami menuju halaman depan, memasukkan barang bawaan ke dalam mobil, berpamitan dengan Lintang (yang ternyata sama sekali tidak tidur setelah INF Gig 2) lalu masuk ke dalam mobil, dan berangkat menuju stasiun. Rombongan Zoo akan naik kereta dari stasiun Kiaracoondong, saya ke stasiun Bandung, menuju Jogjakarta. Terima kasih teman-teman atas segala suka dukanya di Indonesian Netaudio Festival. Sampai nanti bertemu lagi, semoga tidak ada penyelasan di kemudian hari. Kita akan bertemu lagi sebagai wajah yang sudah familiar. Akan muncul rasa saling aman, dan enak. Salam.

Foto bersama Pratama Kusuma Putra dari Sigmun. Foto diambil oleh Anang Sigit.

[Tamat]