 |
| gambar diambil dari sini |
Lega tentu saja seusai menunaikan kewajiban sebagai panelis pengganti di lokakarya Creative Commons Music bersama mas Ivan, dan rekan-rekan yang datang pada lokakarya tersebut. Senang tentu saja hati ini, bisa berbagi pengalaman, dan saling melontarkan wawasan mengenai apa-apa saja yang bisa dilakukan dari Creative Commons. Hal-hal teknis, pengembangan, dan keyakinan. Meskipun tidak ramai, yang penting semua bisa dengar apa yang didengar, dan capai apa yang mau dicapai. Setelah merasa aman dan enak setelah bisa bertemu dengan wajah yang familiar lagi, yaitu mas Ari Mindblasting (
baca Catatan Perjalanan bag. 1), saya pun
ngintil beliau yang juga
ngintili rekan-rekan yaitu para pembicara (
Felix Dass,
Robin Malau, Arie Mindblasting), dan sebagai moderator ada mbak
Nuning, yang akan tampil dan menghantarkan kepada kami pengetahuan-pengetahuan yang mereka punyai, dalam suatu diskusi dengan tajuk "Musik, Teknologi, dan Masyarakat : tentang perubahan dan hal-hal yang tidak berubah". Saya belum bisa membayangkan hal-hal apa saja yang akan dibicarakan pada diskusi tersebut nanti dan malah jadi penasaran, saya memutuskan untuk ikut pada sesi diskusi tersebut yang akan dimulai sekitar jam 1 siang. Meskipun saat itu saya ngantuk sekali karena semalam tidur amat kurang, dan perut mulai lapar karena belum makan siang, saya tetap merasa harus hadir dalam diskusi tersebut, karena saya juga ingin memberi dukungan moral pada bung Arie yang bakal jadi panelis. Kembali ke bab
ngintil, kami kemudian duduk-duduk di kafetaria IFI Bandung yang terletak di bagian depan, dekat parkiran. Para pembicara, moderator, mbak Tinta, tampak saling sibuk berbincang terkait persiapan diskusi yang akan diselenggarakan nanti siang. Saya jadi bingung mau melakukan apa, karena saya sudah minum kopi pagi harinya, dan memutudkan untuk tidak pesan apa-apa di kafetaria itu, saya akhirnya beranjak untuk membeli rokok merek gudang garam, mengecer di kios depan, tiga sampai empat batang mungkin cukup untuk membuang waktu sampai diskusi dimulai saya pikir.
Sekembalinya dari membeli rokok, ada yang memanggil saya dari arah parkiran, ternyata itu Prabu Pramayougha (
Saturday Night Karaoke/woodcabin.). Bagaimana tidak merasa aman, dan segar bukan kepalang, terakhir saya ketemu dengan beliau itu satu tahun yang lalu, bulan November/Desember kalau tidak salah. Saya bertemu beliau dengan rekan-rekan persekutuan kobaran nadanya,
woodcabin., pertama kali itu pada acara
BingoDIY di Jogjakarta, dan sempat juga
band saya, dan
woodcabin. main satu panggung, dan setelah itu jalan-jalan dan makan enak bersama di Gembuls, warung makan yang terletak di daerah Ciumbuleuit. Saya menghampiri dia untuk bertegur sapa, mengobrol sejenak sambil bersama berjalan ke arah kafetaria yang ternyata di sana sudah ada mas Mochamad Abdul Manan Rasudi (Manan) dan mas penggiat Zine dari Nangor (maaf saya lupa lagi nama kamu, maaf ya) yang sedang asik berbincang di kafetaria. Saya dan Prabu pun bergabung, tidak lama kemudian kawan-kawan yang lain datang, saya salami kawan demi kawan yang datang, ada kawan lama, ada juga kawan baru, meskipun saya tidak ingat semua namanya, mungkin kelak kalau bertemu masih bisa bertegur sapa karena masih ingat wajah. Setelah mungkin sekitar sepuluh menitan duduk-duduk di kafetaria, nampaknya diskusi utama di auditorium IFI Bandung segera dimulai, saya dan orang-orang yang ada di kafetaria segera beranjak menuju auditorium. Kondisi tubuh saya saat itu sungguh lemas, selain masih mengantuk, saya lupa kalau saya belum makan siang (setelah mengikuti diskusi utama di auditorium, saya baru tahu kalau perkumpulan panitia baik hati ternyata menyiapkan nasi dus, dan saya mendapatkan lalu memakannya setelah mengikuti diskusi utama, terima kasih panitia). Akibat kondisi tubuh yang lemas, saat memasuki ruangan auditorium saya sedikit tidak fokus, masa bodoh, langsung duduk depan sendiri saja, sama saja, pikir saya. Ya memang, sama saja, tidak ada bedanya, duduk di belakang atau di depan pun seperti biasa saya kalau menjadi peserta diskusi apapun lebih sering menjadi pasif daripada aktif berinteraksi dengan sesama peserta maupun pembicara. Lebih baik diam mendengarkan dan mencoba mendengarkan materi yang didiskusikan, pikir saya. Jahat ya. Iya.
Saya duduk, diskusi ternyata sudah dibuka oleh mbak Nuning selaku moderator. Para pembicara dipersilahkan untuk melontarkan buah pikiran-buah pikiran mereka masing-masing yang sesuai dengan tema diskusi siang itu. Saya tidak bisa langsung memahami arah pembicaraan pada diskusi tersebut, saya datang agak terlmbat, saya melewatkan materi pembuka yang disampaikan bung Arie. Seingat saya waktu itu banyak pembicaraan menyoal transformasi budaya pendistribusian musik (apapun bentuknya: musiknya sendiri, rilisan format fisik/digital, merchandise, dan lain-lain), juga ada pembicaraan menyangkut 'praktik bisnis musik' yang dilakukan oleh metode milik mereka masing-masing yang mereka terapkan, apa ruginya, apa untungnya, kira-kira begitulah seingat saya, meskipun saya tidak ingat semua. Ada juga pernyataan dari salah satu penanya tentang bagaimana hubungan antara penggemar musik, dengan metode distribusi (yang telah lampau) informasi mengenai musik atau musik itu sendiri dapat memberikan kenangan yang romantis bagi dirinya di masa itu (pengalaman tubuh, kalau saya boleh meminjam istilah mbak Nuning waktu itu) jika dibandingkan kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi sekarang ini dalam hal memenuhi kebutuhan tentang informasi karya musik dari musisi tertentu maupun karya musik dari musisi itu sendiri untuk didengarkan. Saya masih ingat tanggapan dari Felix dan Robin terkait hal tersebut, dan saya kurang lebih sependapat, bahwa apapun metode yang saya pakai demi mendengarkan maupun sekadar membaca biografi (terkait informasi tentang pencipta karya) suatu karya musik/non-musik tertentu, tetap memberikan saya efek romantis tersendiri, hal itu bergantung (mungkin) dengan mengena atau tidak mengenanya karya musik/non-musik tersebut pada diri saya, tidak terlepas dengan berbagai macam 'sub-metode' yang dipakai oleh masing-masing penikmat musik untuk mendengarkan karya musik atau informasi tentag musik yang diminati masing-masing penikmat, begitulah.
Saya cukup menikmati diskusi utama di auditorium siang itu, karena diskusi tersebut tidak seperti Indonesian Lawyer Club (ILC). Saya tidak suka ILC. Enak. Boleh juga. Diskusi utama di auditorium berakhir sekitar pukul tiga atau setengah empat sore, dan peserta pun berhamburan keluar dari auditorium. Ada yang melihat-lihat
booth merchandise yang sudah ditata rapi oleh para pelapak, ada yang
sholat, makan, dan lain-lain. Saya pun setelah memakan nasi dus yang diberikan oleh perkumpulan panitia baik hati, langsung bergegas menuju ke musholla IFI Bandung untuk menunaikan ibadah
sholat Dzuhur yang saya jama' dengan
sholat Ashar. Itulah enaknya ketika menjadi
musafir buat saya, dua waktu sholat bisa disatukan, bisa diringkas pula
rakaatnya. Jangan ditiru ya teman-teman. Seusai beribadah, seperti hadirin yang lain, saya juga jalan-jalan melihat pernak-pernik yang dijajakan oleh para pelapak. Hari itu, saya membeli 6 buah kaset split dari
woodcabin. dan
What The Sparrow Did To You (berpatungan dengan Arie, saya beli 3, dia beli 3, beli banyak karena teman-teman dari Jogja banyak yang ingin beli tapi tidak bisa hadir) rilisan
Sailboat Records, juga
Fami dengan judul album/EP
"International Bitter Day" rilisan
Elevation Records karena gambar sampul CD-nya yang menarik (meskipun sampai sekarang belum saya
rip isinya untuk didengarkan, belum sempat), dan juga EP dari
bedchamber yaitu "perennial" yang dirilis oleh
Kolibri Records, yang membuat saya tertarik untuk menengok EP mereka karena perkenalan pertama saya dengan band ini adalah ketika mereka membawakan kembali lagu dari
Potret yang berjudul salah. Hal itu sukses membuat saya senyum-senyum sendiri karena keenakan (ketika saya membaca
liner notes yang ada di dalam EP mereka,
liner notes juga mengutarakan hal yamg sama terkait
cover version tersebut), saya sudah dengarkan CD-nya sambil menyetir di mobil ibu saya, materi-materinya memang adem dan apik. Kembali ke acara Indonesian Netaudio Festival #2 (INF #2), setelah puas jalan-jalan dan berbelanja, rupa-rupanya band pertama yang menjadi pembuka pertunjukan musik dari INF kali ini (INF Gig 2), sudah memulai lagu pertamanya. Gegap gempita suasana panggung
woodcabin. tampak terdengar dari dalam auditorium. Saya segera menghabiskan rokok saya secepat mungkin, dan masuk ke dalam auditorium (karena di dalam tidak boleh merokok). Memang betul, sinting memang band ini, selain membawakan lagu-lagu milik sendiri mereka ternyata masih setia membawakan salh satu lagu wajib, yaitu
Futari Nori no Jitensha versi
JKT48 (sungguh mengobati kerinduan saya dengan hingar bingar
BingoDIY, dan mengingatkan kehangatan suasana saat kami nongkrong di Gembul), yang kemudian di
medley dengan
hits single milik
Barefood yaitu Perfect Colour, memang betul-betul sinting. Dasar. Sinting. Sinting tapi
lucuk.
Selanjutnya, setelah ada penampilan dari
woodcabin., tiba giliran
Silampukau dari Surabaya untuk menghiasi ruang auditorium yang masih sepi di sore menjelang malam itu selain dengan bebunyian. Sebelumnya saya pernah mengunduh gratis (EP/Album ?) dari
Silampukau (saya lupa situs apa yang menautkan tautan unduh gratisnya), dan saya cukup terkesima dengan lagu mereka yang berjudul "Berbenah". Musiknya sungguh rileks dan sederhana, bagus. Saya yang masih
setun (kalau boleh meminjam istilah milik Prabu) memutuskan untuk merebahkan tubuh di kursi lapang auditorium IFI Bandung yang masih sepi "penduduk", sambil sesekali memejamkan mata, dan sesekali melihat aksi panggung dari
Silampukau. Meskipun sedikit terhalang karena ada orang yang duduk tepat di depan saya. Tidak apa-apa, santai sejenak, pikir saya. Tak terasa waktu bermain dan bernyanyi
Silampukau sudah selesai, waktu menunjukan pukul 6 sore lebih sedikit, waktunya sholat
Maghrib, saya keluar menuju
mushola, sholat
Maghrib, saya jama' lagi dengan
Isya'. dua waktu menjadi satu, sekali lagi. Penampil selanjutnya adalah
Neowax, lalu disambung oleh
Elemental Gaze, yang mana kedua penampilan dari dua persekutuan kobaran nada tersebut saya lewatkan karena ke
setunnan dan perut yang keroncongan ini tak bisa berkompromi lagi, saya malah makan nasi goreng sambil ngobrol-ngobrol lumayan lama dengan Prabu dan Reshan Janotama (E-chan/Ecan ?) dari
Sobat Indie (
Sobat Indie pada hari itu mengeluarkan terbitan khusus untuk INF #2, judulnya adalah Sobatdotcom, menarik). Oh iya, waktu makan nasi goreng ada juga Brian (
woodcabin.), Avin (
Amukredam/What The Sparrow Did To You), dan yang lainnya saya lupa karena, sekali lagi, saya sedang
setun. Terima kasih teman-teman sudah mengajak saya makan nasi goreng, ke
setunan, malam hari itu pun lumayan terobati. Pada malam itu juga saya bertemu Faras (
woodcabin./Cotswolds) Toro Elmar (
Sailboat Records), Joph (
Wota), dan Adythia Utama (
Individual Distortion).
Kembali ke INF Gig 2, saya yang sudah tidak terlalu
setun masuk lagi ke dalam auditorium, menonton penampilan enerjik dari
The Kuda, dimana pada waktu selang pergantian lagu, vokalis
The Kuda (Adipati) sesekali mengungkapkan ke-
bete-annya karena tidak boleh merokok di dalam auditorium. Untuk penampilan selanjutnya,
Frau dari Jogjakarta. Ternyata auditorium tersebut sudah disulap oleh (sepertinya) mas Gufi dan mas Ojie seperti biasanya ketika
Frau tampil di IFI Jogjakarta. Tempat duduk lebar yang tadinya begitu kosong dan sepi peminat kini penuh sesak dengan penonton yang memang sepertinya sudah menunggu-nunggu penampilan dari
Frau sedari tadi. Sepertinya semua orang memang rindu dengan sihir yang mencerahkan, dan kesederhanaan unggulan yang dialunkan lewat paduan indah suara mbak Lani dan piano(?)nya, si Oscar. Sesuatu yang lain lagi dari pertunjukan yang biasanya adalah (atau memang saya yang belum pernah), ini kali pertama saya melihat semua penonton diajak, dan mau ikut bernyanyi bersama-sama dalam tembang "
Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta Di Luar Angkasa". Saya pun tak kuat menahan rasa, dan ikut bernyanyi. Bernyanyi kali ini rasanya betul-betul seperti bercinta dengan suatu keberadaan, apapun bentuknya (ruh/benda), dan di dalam bercinta itu kita bersetubuh dengan ramai irama yang dilagukan dengan ikhlas bersama-sama, di ruang angkasa auditorium malam itu. Sejuk benar.
Dan sekarang tinggal dua penampil lagi. Band ini lah yang sudah saya tunggu-tunggu penampilannya, bahkan semenjak saya duduk berangkat dari Jogja. Yaitu
Zoo. Saya sudah melihat video
teaser album baru Zoo. Tembang baru yang digunakan di dalam video itu benar-benar menghantam saya. Bagaimana tidak, perhatikan pada menit 1:15-selesai, ijinkan saya mengutip bait lagu yang dinyanyikan Rully, "Apalah kita selain butir (?) yang terhempasi ombak yang tinggi" dan nyanyian yang mengaromakan kepasrahan diri, "Lemahnya diri". Lirik dan komposisi tembang tersebut terasa begitu megah dan mantap. Waktu itu saya belum tau judul dari lagu tersebut, dan saya sangat penasaran dengan versi utuhnya (Saya begitu terkejut, ternyata ssaat saya merekam aksi panggung
Zoo di Kafe Zob, tembang ini sudah dibawakan. Namun saat itu saya belum begitu familiar dengan tembang ini, mungkin karena waktu itu
output bunyi yang dikeluarkan oleh
sound system yang ada di Kafe Zob memang kurang memadai. Untuk melihat hasil rekaman saya yang berupa video, silahkan klik
disini.) Beruntungnya saya. Sebelum ke Bandung, saya beberapa kali berkunjung ke Satya Prapanca (
Kebun Binatang Film) nge-
kos. Saya sempat diperdengarkan (atau waktu itu aku yang minta dengar Ca ?) versi utuh dari lagu tersebut. Judulnya "Benteng Troya". Setiap saya bertandang ke tempat kos Panca, saya selalu minta diputarkan lagu itu, tak pernah bosan saya, sampai-sampai hampir hapal semua lirik lagu itu, selalu berdebar ketika mendengarkannya. Rasa berdebar itu akhirnya terjawab, setelah membuka giliran tampil mereka dengan "Kedo-Kedo" dan "Manekin Bermesin" (disambut dengan teriakan-teriakan liar oleh para penonton yang memadati areal depan panggung), "Benteng Troya" kemudian disuguhkam.
Zoo ketika membawakan tembang tersebut bak tentara
Kraton yang menarik keris dari sarungnya, dan menodongkannya ke arah manusia lainnya. Jujur saja, saya merasa terharu ketika tembang itu bisa saya dengarkan langsung di depan mata saya. Saya ikut menyanyikan beberapa kalimat yang saya ingat dari tempat penonton. Lalu tembang-tembang baru seperti "Babilonia", "Bahtera Nuh" (Saya tahu karena saya membaca urutan lagu yang diletakkan Rully dibawah
stand microphonenya), dan "Pemuja Hari". Suer, urutan yang seperti itu hampir membuat saya menangis ketika menyaksikan penampilan mereka. Ini baru namanya pengalaman spiritual ! Hahaha. Penampilan dari
Zoo ditutup dengan tembang klasik dari album "Trilogi Peradaban", permintaan dari penonton, yaitu "Lalat". Mereka memang menuruti permintaan penonton, tapi sebelum lagu dimulai Rully menambahkan, "Mintanya lagu itu lagi, move on dooong", kira-kira seperti itu balasnya pada penonton. Baik kak Rull,
Zoo memang sudah
move on, tapi kami sepertinya belum bisa sepenuhnya
move on dari tembang-tembang klasik itu juga.
Setelah menonton kobaran nada liar yang dilontarkan oleh
Zoo dari atas panggung, saya merasa puas sekali, rasanya seperti berdarah-darah, terbang ke akhirat, mati dengan lega karena sudah meninggalkan beban-beban yang dibebankan oleh dunia di pundak saya. Berlebihan ya. Masa bodoh. Ya, saya kemudian beristirahat, rebah-rebahan lagi di bangku yang lagi-lagi sepi "penduduk". Saya memang bermaksud menonton
Sigmun dari jauh karena malam itu
Zoo sudah menjadi "pemenang" buat saya. Tak lama setelah saya pindah untuk merebahkan badan,
Sigmun sudah memulai lagu pertamanya. Tapi anggapan saya itu semuanya berubah ketika lagu kesukaan saya dari mereka yaitu "Valley of Dreams" dibawakan, saya langsung berdiri, dan ikut bergabung dengan penonton di barisan paling belakang. Seusai membawakan "Valley of Dreams",
Sigmun membawakan beberapa lagu baru, juga lagu lama yang saya tidak terlalu ingat bunyi dan judulnya. Menurut saya dari kandang bunyi dengan jenis yang seperti mereka mainkan, mereka memang yang paling menghangatkan dibanding yang lainnya, yang ssatu kandang bunyi. Selain itu juga ada favorit saya yang lain, yaitu
Suri. Oh iya, saya kira hampir saja saya mengalami pengalaman mistis waktu itu, di deretan penonton tempat saya berdiri, samar-samar terlihat di sebelah kanan saya, ada bayangan putih sedang menari-nari dengan begitu lepas mengikuti
riff-riff gitar memabukkan yang disiram-siramkan oleh Haikal Azizi (
Bin Idris) ke arah penonton. Saya sempat merinding (merinding takut). Saya sudah beranggapan bahwa itu adalah makhluk halus yang ikut berpesta bersama manusia-manusia yang sedang menikmati musik
Syaiton. Kemudian, saya coba memberanikan diri melihat ke arah tersebut, ternyata yang menari dari tadi itu adalah sesosok perempuan
bule yang memang memakai baju putih-putih dan berambut panjang berwarna cokelat. Hampir saja saya kira itu semacam
Jin yang sukses dibuat mabuk oleh
Sigmun. Fyuh. Sebelum sempat berpikir apa-apa lagi, tiba-tiba
intro dari tembang "The Long Haul" diledakkan. Spontan saya langsung berjalan cepat menuju arah sang
drummer, yang menabuh genderang perang dalam tembang tersebut dengan begitu mantap. Seakan jenderal, Pratama pada
drum (pada akhir acara pun saya menyempatkan diri untuk berfoto bersama beliau) hanya seperti melepaskan diri, menari bebas bersama udara yang ada di sekitarnya, dimana ketiga pasukannya (satu pemain bas, dan dua gitaris) seakan meliuk mengikuti komando tarian yang bebasnya bersama udara itu. Betul-betul seakan jenderal. Menganga saya dibuatnya. Sederhana, tapi mantap, strategi perang yang benar-benar jitu untuk menundukan budak yang gemar memberontak majikan seperti saya. Akhirnya saya tersadar. Memang betul hari ini tidak ada yang jadi "pemenang" dan "pihak yang kalah" atau "juara satu, dua, dan tiga", semua penampil menjadi tuan dari bunyi yang dilantunkanya sendiri.
Sigmun menutup dengan megah dan manusiawi,
Zoo membuka penutupan megah dan manusiawi itu dengan kemegahan dunia fauna. Itu kesimpulan saya. Keren.
INF Gig 2, selesai. Tak lama setelah mobil yang disewa oleh perkumpulan panitia baik hati dipakai untuk mengantarkan
Zoo menuju ke rumah inap, kami yang tersisa (Saya, Arie, dan Anang) pun pulang ke rumah inap Dago Asri bersama Lintang dan panitia yang lain. Saya yang tak kuat menahan rasa ingin buang air besar langsung menuju kamar mandi, dan mengerahkan semua tenaga yang tersisa. Setelah lega menunaikan buang air besar, kemudian saya ikut bergabung dengan teman-teman yang masih nongkrong di halaman belakang. Halam belakang masih ramai oleh kawan-kawan dari
Silampukau dan
Zoo yang pada awalnya tidak tampak lelah, tapi kemudian ternyata tumbang satu per satu. Menyisakan saya, Bhakti, dan Obet. Kami ngobrol-ngobrol, begadang karena takut ketinggalan kereta jam empat pagi nanti (waktu itu kami sampai rumah jam dua dini hari, nanggung sekali). Bicara soal kehidupan, visi sekarang, dan kadang diselipi dengan saling melontarkan rekomendasi musik yang menjadi favorit sejak lama maupun yang sedang didengarkan akhir-akhir ini. Saat kami masih ngobrol namun dengan posisi tidur-tiduran, kebaikan hati panitia masuk menyela, kami disuguhi roti bakar untuk cemilan sambil begadang, terima kasih ya. Tak terasa, sambil mengobrol dan menyemil, waktu sudah menandakan pukul empat kurang sedikit, dan rupanya rekan-rekan lain (Rully & Dimek) sudah bangun. Setelah semua siap kami menuju halaman depan, memasukkan barang bawaan ke dalam mobil, berpamitan dengan Lintang (yang ternyata sama sekali tidak tidur setelah INF Gig 2) lalu masuk ke dalam mobil, dan berangkat menuju stasiun. Rombongan
Zoo akan naik kereta dari stasiun Kiaracoondong, saya ke stasiun Bandung, menuju Jogjakarta. Terima kasih teman-teman atas segala suka dukanya di Indonesian Netaudio Festival. Sampai nanti bertemu lagi, semoga tidak ada penyelasan di kemudian hari. Kita akan bertemu lagi sebagai wajah yang sudah familiar. Akan muncul rasa saling aman, dan enak. Salam.
 |
| Foto bersama Pratama Kusuma Putra dari Sigmun. Foto diambil oleh Anang Sigit. |
|
[Tamat]